Sambut Hari Kartini, 31 Perempuan Pelukis Pamer Karya

Surabaya (DOC) – Menyambut Hari Kartini, sebanyak 31 perempuan pelukis memakerkan karyanya di Hotel Singgasana. Pameran bertajuk Metamorfosis ini mendapat perhatian dari politisi Fandi Utomo.

“Meski bukan profesional, namun saya memang hobi melukis. Saya juga mendirikan dan pernah bermain ludruk,” ucap Fandi Utomo saat membuka pameran lukisan Metamorfosis di Hotel Singgasana Surabaya, Rabu (11/4/2018).

Lebih lanjut, Fandi menerangkan terkait tema Metamorfosis, bahwa perubahan adalah keniscayaan. Begitu pula perubahan bagi kaum perempuan, sebagaimana semangat yang dikobarkan Kartini.

“Semangat Kartini di bulan April patut diteladani. Fenomena pameran lukisan ini luar biasa. Diikuti 31 perempuan pelukis. Berangkat dari profesi yang berbeda tapi sama-sama bisa melukis,” tutur politisi Partai Demokrat ini.

Ia menambahkan, kebebasan menyampaikan ekspresi di atas kanvas dari para perempuan pelukis ini patut diapresiasi. “Semoga kegiatan ini menjadi aspirasi perempuan di bidang lain untuk semakin maju,” ucapnya.

Selain itu, Fandi juga menilai Hotel Singgasana ini peduli dengan aktivitas kesenian. Sehingga perlu dicontoh hotel lain untuk juga lebih peduli dengan kesenian.

Sementara itu, salah satu pelukis, Tri Wahyuni mengaku sangat senang dengan pameran ini. Ia pun memamerkan karyanya, yang berjudul Kalilah.

Lukisan itu menggambarkan, wajah wanita berkebaya putih itu terlihat sayu. Matanya terpejam. Dengan memakai jarik, tangan kanannya menggendong seorang anak kecil. Keduanya berada di persawahan, berlatar gunung dan hutan.

Bocah dalam lukisan itulah bernama Kalilah Audia Abiani, anak dari sang pelukis. Dia diketahui mengidap autis sejak berusia tiga tahun.

“Ini anak saya. Waktu kecil bayi sangat polos dan tidak tahu masa depannya seperti apa. Ini saya melukis anak saya sendiri. Ini anak saya ini autis,” cerita Tri Wahyuni.

Kalilah sendiri diketahui mengidap autis sejak usia tiga tahun. Meski mengalami keterbatasan, Kalilah tetap tumbuh menjadi anak yang pintar.

“Dia senang komputer padahal nggak ada yang ngajari. Tetapi sangat peka dengan suara. Setiap kali akan mendengar suara keras, telinganya selalu ditutup,” tandasnya.

Wanita bernama pena Aime Hanibi itu mengaku sangat bahagia mengamati setiap perkembangan anaknya.  “Pernah suatu ketika dia mengucap kata capung ketika membuka pintu. Itu sudah membuat saya senang sekali,” tuturnya.

Dia mengatakan, membuat lukisan itu selama seminggu untuk memperingati hari Kartini yang akan jatuh pada tanggal 21 April mendatang. Dalam lukisan itu, dia berdoa agar Kalilah kelak menjadi anak yang berguna dan membanggakan orang tua.

“Saya berpengharapan suatu hari kelak dia akan berproses dari kepompong menjadi kupu-kupu. Karena selama ini tiap hari saya menerapi anak saya dan dia belajar kata demi kata dan meniru apa saja, itu seperti metamorfosis. Ini wujud rasa cinta saya untuk anak saya,” katanya sambil berkaca-kaca.

Tri Wahyuni menjelaskan,  sosok Kalilah memang sangat mempengaruhi karya-karyanya selama ini. Dia masih mengingat, lukisan yang pertama kali dibuatnya adalah sosok peri kecil dengan ditemani kupu-kupu beraneka warna.

“Lukisan itu sampai saat ini tidak saya jual dan selalu disimpan. Saya berharap agar anak saya menjadi peri yang cantik,” kata pelukis beraliran surrealis itu.

Sampai saat ini, sudah puluhan lukisan yang dihasilkan oleh Tri Wahyuni. Beberapa lukisan yang dia buat itu laku antara ratusan ribu sampai jutaan.

“Biasanya pesanan lukisan wajah. Bagi saya melukis adalah mengekspresikan isi hati. Jadi tidak menargetkan uang,” kata ibu dua anak itu. (bah)