Satgas Pengamanan BBM Siap Menindak Spekulan Nakal  

Surabaya, (DOC) — Satgas pengamanan BBM dan LPG telah dibentuk Pertamina demi menjaga kelancaran dan kecukupan pasokan selama hari natal dan tahun baru. Pertamina melalui satgas pengamanan ini mengaku siap menindaktegas bila mendapati kenakalan oknum pengecer atau distributor di tengah masyarakat Jawa Timur.

Manager Communication dan CSR Pertamina  (Marketing Operation Region) MOR V Jabarnusa Rifky Rahman Yusuf mengungkapkan, satgas pengamanan BBM dan LPG mulai dibentuk pada 18 Desember 2017. Satgas bertugas untuk menjamin kelancaran pasokan BBM maupun LPG di saat kebutuhan terhadap kedua komoditi itu meningkat drastis. Utamanya seperti kebutuhan yang naik menjelang akhir tahun dan liburan panjang natal atau tahun baru. 

”Per tanggal 18 Desember kami sudah persiapkan satgas bbm. Tim satgas akan memantau keberadaan stok BBM dan elpiji sekaligus memastikan kelancaran distribusinya di lapangan,” ujarnya pada DOC, Rabu (20/12/2017) Malam.

Pasalnya, peningkatan kebutuhan BBM di jawa timur pada momentum liburan akhir tahun tersebut bisa mencapai 15 persen dibandingkang dengan kondisi normal. Sedangkan, kebutuhan LPG, terutama LPG kemasan melon 3 kilogram bisa naik hingga 20 persen.

Yusuf menambahkan, satgas BBM dan LPG terdiri dari beberapa unsur di dalamnyatermasuk unsur  penegak hukum. Sebab, bukan tidak mungkin kelangkaan bbm dan lpg dikarenakan ulah  distributor atau spekulan nakal. ”Tim satgas ini pertamina bekerja sama dengan unsur dari pemda dan kepolisian untuk mengamankan pendistribusian serta mengantisipasi terjadinya deadlock, seperti kemacetan, dan kelancaran itu sendiri,” imbuhnya. 

Pertamina menegaskan akan bertindak tegas bila menemukan adanya penyimpangan-penyimpangan yang terbukti. Tindakan tegas bisa saja diberikan melalui catatan hitam terhadap pihak-pihak yang sengaja melakukan pelanggaran. ”Kalau kita telahk omit demi kelancaran stok, kita minta agen-agen untuk mendukung keberadaan stok LPG. Apabila ada penyimpangan kita sudah punya SOP. Kita berikan teguran atau surat peringatan. Tapi ujung-ujungnya bisa penghentian suplai atau pemutusan hubungan usaha,” tegasnya.

Hiswana Turut Antisipasi

Sementara itu, Ketua Himpunan Swasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Jawa Bali dan Nusa Tenggara Rahmad Muhamadiyah, menyampaikan sejauh ini kondisi tabung LPG 3 kg dalam kondisi aman. Meski demikian, bila nanti terjadi peningkatan permintaan, bahkan kekosongan, Hiswana segera mengajukan permintaan ke pertamina. ”Kami sudah memantau, laporan dari agen-agen kami sementara masih aman. Anggota-anggota pangkalan kami akan melapor bila akan terjada kekosongan,”ujarnya.

Hiswana juga terus memantau persediaan elpiji 3 kg hingga ke tingkat desa melalui agen-agen dan pangkalan. Tujuannya, untuk menghindari kekosongan stok di tingkat agen dan pangkalan. Rahmad mengakui, Hiswana maupun pertamina kesulitan memantau di tingkat pengecer. Oleh karena itu, hiswana migas berharap masyarakat bisa membeli lpg ke pangkalan atau agen resmi seperti di spbu di daerah setempat.

Kelancaran dan kecukupan pasokan bukan faktor utama. Tidak jarang kelangkaan terjadi justru di luar hari-hari besar keagamaan dan liburan. Hariyanto, 40 warga Gresik, mengaku beberapa kali menghadapi kelangkaan LPG bersubsidi. ”Dengan situasi seperti gini mau nggak mau membeli elpiji bersubsidi lebih mahal,” ujarnya.

Pengakuan nyaris serupa diungkapkan agen yang juga menjual eceran LPG dari desa menganti Kabupaten Gresik, Rochmad. ”Permintaan tiba-tiba naik seperti sedang terjadi aksi borong. Tetapi tidak sampai terjadi kelangkaan,” ujarnya. (nps)