Kepala Daerah Peserta PLP Sibuk Amati Bozem Morokrembangan

Surabaya,(DOC) – Hari kedua pelaksanaan Sosialisasi Pengelolaan Sarana dan Prasarana Bidang Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP) benar-benar dimanfaatkan sebagai ajang belajar. Pasalnya, peserta sosialisasi yang merupakan bupati/walikota serta pimpinan DPRD dari 25 daerah ini terlibat kunjungan lapangan di empat lokasi.
Tepat pukul 08.00, Rabu (11/9), rombongan yang diangkut dua bus tiba di lokasi pertama Kampung Gundih. Tepatnya di RW 9, para kepala daerah disambut meriah oleh warga dan kader lingkungan. Kemudian, Camat Bubutan Yanu Mardianto memaparkan seluk beluk kampung yang memang terkenal berwawasan lingkungan itu.
“Dulunya, di wilayah ini sangat kumuh dan angka kriminalitas tinggi, layaknya daerah pinggiran rel pada umumnya. Namun, berkat kegigihan dan komitmen warga untuk berubah, potret suram itu perlahan mulai berubah,” ungkapnya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan bersih dan sehat menjadi kartu truf perubahan di Kampung Gundih.
Kini, Kampung Gundih tak lagi kumuh. Bahkan, kata Yanu, warga sudah banyak yang menerapkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), bank sampah maupun komposter dan biogas. “Hal-hal positif itu tetap dilakukan secara konsisten hingga sekarang, bahkan warga terus mengembangkannya dengan berbagai inovasi,” imbuhnya.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi Boezem Morokrembangan. Di sini, mereka mendapat penjelasan seputar pengalaman warga dalam mengelola boezem. Khususnya mengenai enceng gondok yang dimanfaatkan untuk pupuk dan pakan lele. Melihat paparan warga plus blusukan ke tempat pemeliharaan lele, peserta pun semakin bersemangat. Tak jarang pula terjadi tanya jawab antara warga dan bupati/walikota dari daerah lain.
Antusiasme peserta berlanjut saat meninjau rumah pompa Kenjeran. Sampai-sampai, Kepala Dinas PU dan Bina Marga Surabaya, Erna Purnawati harus rela ‘diberondong’ pertanyaan teknis terkait operasional rumah pompa. Pertanyaan yang diajukan pun bisa dibilang sangat detail, meliputi tenaga apa yang digunakan? Berapa meter kubik air yang dapat dipompa dalam satu menit? Hingga bagaimana cara memompa air dan lumpur?
Erna menjelaskan, lumpur dan air dipompa dengan pompa tersendiri. “Pompa kecil ini untuk lumpur sedangkan pompa besar digunakan untuk memompa air,” katanya sembari menunjuk deretan pompa berukuran raksasa. Menurut dia, jumlah pompa sangat bergantung pada luasan area yang di-cover oleh rumah pompa. “Jadi tidak sama,” imbuhnya.
Saat ini, Surabaya memiliki 54 rumah pompa yang tersebar di beberapa titik. Fasilitas itu berfungsi untuk mengatur ketinggian air di saluran-saluran sehingga tidak banjir. Namun, kata Erna, pemkot masih akan menambah 17 rumah pompa lagi.
Rangkaian kunjungan lapangan akhirnya berujung di instalasi pengolahan limbah tinja (IPLT) Keputih. Bupati Bangka Barat, Zuhri M. Syazali mengaku puas dengan keseluruhan kunjungan. Menurut Zuhri, pihaknya mendapat banyak sekali masukan berharga yang dapat diterapkan di Bangka Barat.
Dia menggarisbawahi faktor keterlibatan dan peran aktif masyarakat sebagai kekuatan utama pengelolaan lingkungan di Surabaya. Oleh karenanya, bupati yang mulai menjabat sejak Desember 2010 ini sangat terkesan saat mengunjungi Kampung Gundih dan Boezem Morokrembangan. “Kedua tempat ini yang menurut saya paling cocok dan bisa di terapkan di Bangka Barat. Ke depan, saya berencana membawa warga untuk studi banding di sini,” kata Zuhri.(r7)