Sekkota Surabaya Siap Jalani Hukuman Penjara

Tidak ada komentar 131 views

Surabaya,(DOC) – Sekkota Surabaya Sukamto hadi mengaku siap menjalani hukuman penjara 1,6 tahun , setelah panggilan kedua dari kejaksaan diterima senin mendatang. Dalam keterangannya kepada pers di ruang siding Sekkota, didampingi dua terpidana kasus jasa pungut lainnya, yakni Asisten 2 sekkota Surabaya dan mantan kabag keuangan Purwito  Sukamto menegaskan, akan menerima putusan MA dengan ikhlas.  meski tak memendam dendam dan benci kepada siapapun, namun ia mengungkapkan penyesalannnya . Sekkota Surabaya ini meminta maaf kepada walikota Surabaya  dan jajarannnya, karena telah mencemarkan nama baik institusi.

“Kepada Ibu Walikota dan teman-teman di jajaran Pemkot Surabaya kami sampaikan permohonan maaf dan penyesalan yang teramat dalam, karena dengan ditetapkannya kami sebagai koruptor, kami telah mencoreng nama baik pemkot Surabaya , sebagai pemerintah daerah yang sudah dikenal anti dan bersih dari segala bentuk KKN” jelas mantan kepal dinas Sosial Surabaya, Selasa (12/2/2013)

Meski demikian, ia menegaskan tidak merugikan keuangan negara dan memperkaya diri sendiri. tindakannnya hanya melaksanakan peraturan pemerintah sesuai tugas dan jabatnnya, yang kemudian dianggap bersalah .

“Tanpa bermasksud membela diri, bahwa sesuai fakta, kami tdiak merugikan keuangan negara dan tdiak memperkaya diri sendiri maupun orang lain” lanjut Sukamto.

Sukamto mengaku telah mengajukan penangguhan eksekusi . Tetapi, pengajuan itu menurutnya semata-mata untuk mempersiapkan diri dan keuarganya sebgelum menjalani hukuman penjara . Dan tidak  ada niat untuk tidak patuh pada putusan MA .

“saya memang mengajukan penangguhan eksekusi. Tapi itu tdiak bermaksud mangkir. Kalau mau saya sudah pergi jauh. Semata-mata itu untuk persiapkan diri dan keluarga.” Tegas Sukamto.

Ia mengatakan, akan datang ke kejaksaan jika menerima panggilan kedua nanti.

‘Jika senin nanti ada panggian kedua, saya siap datang lebih pagi untuk memenuhi panggilan itu” ucapnya.

Sukamto menegaskan, dalam keadaan apapun dirinya siap hadir di Kantor Kejaksaan. Bahkan,  ia berandai-andai jika sebelum dieksekusi dirinya mati,keluarganya diminta membawa jasadnya ke Kejaksaan.

“jika  perlu saya tulis surat wasiat ke anak-istri saya, jika saya mati jasad saya dibawa ke (kejaksaan). Ini bener tdiak berlebihan, ungkapan hati” ungkapnya

Menjadi terpidana menurutnya merupakan kondisi yang paling kelam dalam hidupnya. sejak 6 tahun lalu kasusnya mengemuka, ia dan kelaurganya merasa sudah terhukum dan menanggung malu di tengah keluarga, kantor dan masyarakat.  Hukuman yang diterima menurutnya tidak pernah terhapus  hingga akhir hayatnya. (K-4)