Selama 8 Tahun, Kekerasan Anak di Dolly Ratusan Kasus

Surabaya, (DOC) – Selama 2006 hingga 2014 ditemukan sebanyak 397 kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di lokalisai Dolly. Data yang dirilis Yayasan Crisis Center Cahaya Mentari tersebut menyebutkan beragam jenis dan bentuk kekerasan yang menimpa anak-anak yang tinggal di tempat prostitusi yang ada di Kelurahan Putat Jaya Kecamatan Sawahan itu.
Dari 397 kasus tersebut, rinciannya, kekerasan domestik atau kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga sebanyak 81 kasus, terdiri atas 49 laki-laki dan 32 perempuan. Kekerasan seksual anak sebanyak 45 kasus, terdiri atas 15 laki-laki dan 30 perempuan. Untuk anak-anak laki-laki biasanya menjadi korban sodomi. Sedangkan untuk perempuan karena diperkosa. Para pelaku biasanya orang dekat seperti keluarganya sendiri. Untuk kekerasan ekonomi, seperti memaksa menjadi pengemis, sebanyak delapan kasus. Terdiri atas anak laki-laki sebanyak enam dan perempuan dua.
Anak berhadapan dengan hukum seperti terlibat kasus kejahatan sebanyak 18 kasus. Ini terdiri atas laki-laki sebanyak 16 anak dan perempuan dua anak. Anak tidak sekolah sebanyak 81 kasus. Rinciannya, laki-laki sebanyak 54 anak dan perempuan 27 anak. Penelantaran anak sebanyak 14 kasus. Ini terdiri atas laki-laki sebanyak 11 anak dan perempuan 3 anak. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak 134 kasus. Yang menimpa laki-laki sebanyak 19 anak dan perempuan 115 anak. Sedangkan untuk traffiking sebanyak 16 kasus dengan rincian dua laki-laki dan 14 perempuan.
Aktivis Yayasan Crisis Center Cahaya Mentari, Mariani mengatakan, anak-anak yang tinggal disekitar lokalisasi ini kondisinya sangat memprihatinkan. Sebagian besar mereka sudah dewasa sebelum waktunya. Artinya, mereka sudah mengonsumsi tontontan dan juga berperilaku yang tidak seusianya. Contohnya, gemar pesta seks, pesta minuman keras dan juga pesta sabu-sabu. “Biasanya pesta-pesta ini dilakukan di makam Jarak dan juga makam Kembang Kuning. Di dua tempat inilah banyak anak-anak yang belajar melakukan tindakan kriminal,” katanya.
Psikiater, dr Agung Budi Setiawan SpKJ mengatakan, jika banyak lembaga yang melakukan pendampingan terhadap anak-anak yang ada di lokalisasi Dolly, bisa dipastikan jumlah kasus yang ditemukan lebih banyak lagi. Pasalnya, kasus kekerasan terhadap anak ini ibarat fenomena gunung es. Banyak sekali kejadian yang tidak terlaporkan. “Dari jumlah data tersebut, itu tentu sangat memprihatinkan. Saya kira para pelaku sudah mengalami gangguan mental. Gangguan mental itu sama saja dengan gila. Inilah yang sulit tertangani karena gila gangguan mental ini tidak seperti gila pada umumnya,” terangnya.
Menurut Agung, ada hak-hak yang itu harus diberikan pada anak-anak. Diantaranya, hak atas perlindungan dan hak atas penelantaran. Tapi saat ini, yang banyak terjadi adalah hak atas perlindungan. Ini terbukti dengan masih banyaknya kasus kekerasan yang menimpa pada anak-anak. Parahnya pelakunya adalah orang-orang terdekat. Jika anak sudah menjadi korban kekerasan, maka anak tersebut berpotensi untuk menjadi pelaku kekerasan yang sama. “Jika ada anak menjadi korban sodomi, maka kemungkinan besar ketika dewasa nanti, anak tersebut akan menjadi pelaku sodomi,” paparnya.
Agung mengungkapkan, ada dua hal penting yang mampu membuat seorang anak itu menjadi pribadi yang baik. Pertama, selama dalam kandungan dia merasa nyaman karena orang tuanya tidak pernah bertengkar. Kemudian mendapatkan gizi yang cukup. Kedua, setelah lahir, anak itu hidup dilingkungan yang berperilaku positif. Yang pertama adalah mikrokosmos dan yang kedua makrokosmos. “Ibarat tanaman, jika anak itu ditanam di tanah yang subur, maka ketika tumbuh bisa berbuah. Sebaliknya, jika ditaman ditanah yang tidak subur, bisa jadi tanaman itu nantinya akan mengganggu,” jelasnya. (ist/r4)