Sering Dapat Keluhan Macet, Komisi B DPRD Surabaya Minta PDAM Serius Benahi Layanan

foto ; Baktiono

Surabaya,(DOC) – DPRD Surabaya meminta PDAM melakukan revolusi dan inovasi dalam memberi layanan kepada masyarakat. Jangan sampai air bersih tidak mengalir ke rumah-rumah warga hingga berbulan-bulan atau tahunan.

Menanggapi tak mengalirnya air PDAM di kampung Jatisrono Barat, Surabaya, Baktiono, anggota Komisi B DPRD Surabaya meminta PDAM bekerja lebih keras siang dan malam jika ada air belum atau tak mengalir ke rumah warga Kota Pahlawan.

“Kalau satu atau dua hari masih dimaklumi, tapi kalau sudah bulanan dan tahun itu ini sudah tak wajar. Makanya saya selalu meminta kepada PDAM, termasuk ke Dirut yang baru ini memberikan layanan terbaik,” sebut Baktiono, Rabu(15/11/2017).

Menurut anggota dewan asal PDIP ini, PDAM harus mampu mengambil skala prioritas. Wilayah yang debit airnya kecil harus bisa terlayani, karena air merupakan kebutuhan dasar warga. Warga sudah membayar dan wajib mendapat pelayanan terbaik.

“Ini keluhan sudah bertahun-tahun soal air bersih PDAM, jangan sampai keluhan yang sama selalu berulang-ulang.” tutur Baktiono.

Dia juga mengingatkan, Dirut PDAM yang baru ini harus turiun lapangan dan menyelesaikan persoalan air bersih ke warga. PDAM harus bertangung jawab penuh jika ada gangguan atau air tak mengalir. Kirim air melalui tangki kepada warga-warga.

“Di daerah Tenggumung Karya, sudah tiga tahun air PDAM belum bisa mengalir juga ke sana,” pungkas Baktiono.

Seperti diketahui, pada Rabu (15/11) sebanyak 1.000 Kepala Keluarga (KK) dari 10 RT di kampung Jatrisrono Barat, Keluarahan Ujung, Kecamatan Semampir, Surabaya dilanda krisis air bersih.

Sudah tiga bulan terakhir ini, air PDAM sama sekali tidak mengalir ke rumah-rumah warga kampung yang berlokasi di Surabaya Utara ini.

Guna memenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa mengandalkan air bersih yang dibeli dari kampung tetangga, yakni Wonosari seharga Rp 2.000 per jeriken. Ini terpaksa dilakukan lantaran aliran air PDAM sudah tidak menetes ke rumah-rimah warga.

“Sudah tiga bulan terakhir ini tak keluar air, netes pun ndak. Sebelumnya setiap hari keluar dari air dari
PDAM,” ujar salah satu warga kampung Jatrisrono Barat.

Awal gangguan air bersih dari PDAM, bermula ketika siang hari air tidak mengalir dan baru pada malam hari air keluar dari keran jaringan PDAM. Gangguan tersebut ternyata makin memberatkan warga yang mengandalkan air bersih dari PDAM.

Guna memenuhi akan kebutuhan air bersih, warga biasa membeli 6 jiriken air bersih dan harus mengeluarkan uang Rp 12.000 sampai Rp 15.000 setiap harinya. Hal ini tembah berat lantaran meski air tidak mengalir, warga yang memakai PDAM tetap membayar biaya anonemen.

Warga berharap, air PDAM bisa kembali lancar. Mereka menlai, sumbangan air bersih dari tangki tidak bisa terus-terusan dilakukan. ”Yang paling penting itu segera menormalkan kembali aliran air, capek kalau harus angkut air dari tangki tiap hari,” ujar warga.(adv)