Sidak Telat, Komisi B DPRD Surabaya Teliti Hewan Kurban

Hewan kurban yang diperjualbelikan.

Surabaya, (DOC) – Jelang pelaksanaan hari raya Idul Adha, anggota Komisi B DPRD Surabaya menggelar isnpeksi mendadak (sidak) ke beberapa sentra penjualan hewan kurban. Dimana dalam sidak kali ini komisi yang membidangi masalah perekonomian tersebut mengunjujungi dua sentra terbesar di Surabaya, yaitu di kawasan Tanjung Sadari dan Rungkut.

Menurut Ketua Komisi B, Mochamad Machmud, sidak ini digelar untuk melihat langsung kondisi hewan yang akan dikurbankan. “Kami ingin melihat kondisi di lapangan. Selain itu, kita berdiskusi dengan Dinas Pertanian (Distan) terkait upaya mereka selama ini,” ungkapnya, Kamis (25/10/2012).

Machmud menjelaskan, dari informasi yang dia terima, belum ada laporan terkait penyakit berbahaya yang menjangkiti hewan kurban di Surabaya. Namun, Machmud memperingatkan agar Distan tetap waspada karena tidak semua hewan kurban terdata.

“Memang belum ada laporan (hewan terjangkit penyakit). Tapi tidak bisa juga hanya mengadakan penyuluhan bagi penjual saja. Harus lebih proaktif dengan mendata semua penjual berserta hewan kurban yang dijual,” kata politisi Partai Demokrat itu.

Lebih jauh, Machmud juga menyoroti minimnya peran pemerintah kota (pemkot) Surabaya dalam mengawasi keberadaan hewan kurban di sentar sentra penjualan. Karena berdasarkan pengamatan yang ia lakukan, selama ini Dinas Pertanian (Distan) terkesan menunggu dan hanya bertindak parsial ketika baru ada laporan yang masuk.

“Jangan Distan kerjaannya hanya mendatangi kadang-kandang penjual hewan kurban. Sangat tidak efektif karena jumlah penjual hewan ini tidak sedikit dan tersebar di segala penjuru kota,” tegasnya.

Menurutnya, seharsunya yang dilakukan dinas pertanian adalah denganĀ  membuat aturan tentang sentralisasi titik penjualan hewan kurban. Sentralisasi ini dimaksudkan untuk memudahkan Distan mengontrol penjual dan hewan kurban yang dijual.

“Sentralisasi ini harus diawali pendataan berapa jumlah penjual dan hewan kurban yang dijual. Setiap hewan yang dijual, harus diketahui jelas riwayat kesehatannya. Artinya, hewan kurban yang dijual dan sampai ke tangan pembeli, datanya ada di Distan. Semuanya terkontrol,” ungkapnya.

Dengan tersentralnya penjualan, tambah Machmud, peluang hewan sakit yang dijual bisa dicegah. Menurutnya, penyakit pada hewan ternak sangat berbahaya sehingga pengecekannya tidak bisa dilakukan secara acak yang cenderung seremonial belaka.

Secara teknis, lanjut mantan wartawan itu, sentralisasi bisa dibagi berdasarkan kawasan. Dia mencontohkan, di Surabaya barat bisa dibuatkan dua sampai tiga titik penjualan hewan kurban. Begitu juga di kawasan lain. Jumlah titik disesuaikan dengan luasan wilayah dan animo masyarakat.

“Kalau ini dilakukan, saya pastikan Surabaya bisa menjadi barometer penjualan hewan kurban. Selain tertata, pertemuan penjual dan pembeli bisa terkontrol. Bahkan, bisa jadi agenda wisata tahunan yang berpotensi menambah pendapatan,” kata Machmud.

Dia mencontohkan, beberapa tahun lalu, di kawasan Ampel terdapat bazar hewan kurban, yakni Pasar Kambing. Pasar ini sangat legendaris dan menjadi sentra utama penjualan hewan kurban di Surabaya. Namun, karena pengelolaannya kurang tertata, pasar ini pun bubar. (k1/r4)