Siswa SD Aisyiyah Wonorejo “Tak Layak” Dapat Pendidikan Mahal

Surabaya,(DOC) – Sekitar 40 siswa-siswi SD Aisyiyah Jl Wonorejo Indah Timur Kavling 21 kondisinya sangat mengenaskan. Para siswa yang mayoritas orang tuanya hidup digaris kemiskinan tidak bisa lagi menikmati pendidikan, karena sekolahnya yang sudah mengurus ijin sejak November 2011 itu ditutup paksa oleh Kepala Dinas Pendidikan Surabaya.
Sekolah baru yang masih memiliki murid kelas 1 (bakal naik kelas 2), tak hanya ‘diserang’ pihak dinas tapi juga pihak-pihak lain, diduga juga termasuk induk organisasinya. Padahal permasalahan sekolah itu berawal dari konflik orang tua murid dengan pihak sekolah, namun berimbas proses perijinan sekolah yang tidak kunjung selesai atau dikeluarkan. Sekolah itu sebenarnya lebih banyak menampung murid dari keluarga tak mampu. Bahkan ada beberapa murid tak mampu yang pembiayaannya digratiskan.
“Kami memang diberi opsi merger dengan sekolah lain. Saat kami memilih sekolah terdekat, yakni sekolah Wonorejo, kami malah dihina. Katanya, kami tak akan mampu membayar di sekolah itu. Makanya pilihan merger itu justru di SD kawasan Kenjeran. Ini sudah tak masuk akal karena lokasi merger yang jauh,” kata Eddi salah satu orang tua siswa.
Pria yang sehari-hari berkerja sebagai tukang sayur mayur ini sekarang hanya bisa pasrah bagaimana nasib anaknya untuk menyekolahkan dan menikmati pendidik yang layak seperti anak-anak pada umunnya sebagai generasi bangsa.
“ Saya ini hanya tukang sayur, dan wali murid lainnya juga banyak yang tidak memiliki pekerjaan tetap, yang kita takutkan psikologis anak – anak karena mereka sudah nyaman di SD Aisyiyah,” ujar Eddy.
Apa lagi lanjut Eddy Apa lagi lanjut Eddy dirinya sangat terkejut dengan pernyataan salah satu pengurus persyarikatan Muhammadiyah, saat melakukan pertemuan dengan Dinas Pendidikan serta wali murid dan para guru. Saat wali murid kata Eddy saat wali murid ditawarin mergen ke sekolah lain yakni di kawasan Kenjeran yang lokasinya sangat jauh. Dan heronisnya saat para wali murid minta dimergen di SD Wonorejo maupun Muhammadiyah pucang bukan mendapatkan jawaban yang menyenangkan melainkan suatu penghinaan.
“Tidak bisa karena kalian pasti tidak akan mampu membayar,” kata Eddy menirukan ucapan salah satu pengurus persyarikatan Muhammadiyah saat pertemuan.
Sementara itu ketua cabang Aisyiyah Rungkut Surabaya Susetyowati salah satu cikal bakal yang merintis berdirinya SD Aisyiyah Jl Wonorejo Indah Timur Kavling 21 ini tidak habis pikir kenapa Dinas Pendidikan dengan sepihak menutup sekolah, berawal dari persoalan wali murid dengan pihak sekolahan. Perempuan berjiblab ini pun bercerita awal mula terjadinya peristiwa sehingga terjadinya penutupan sekolah. Sejak dikeluarkannya SK PP Aisyiyah No. 149/SK-PPA/A/XI/2008 tanggal 11 November 2008 tentang pedoman majelis Dikdasmen yakni perubahan nama SD Muhammadiyah 27 menjadi SD Aisyiyah.
“ Setelah kita konsultasi dan diberikan masukan dari Majelis Dikdasmen PDA Muhammadiyah maupun pihak terkait, kami mulai mengurus sejak bulan November 2011 dan sampai sekarang ijinnya masih diproses ditingkat UPTD Rungkut dan sampai sekarang belum selesai ijinnya, karena sertifikat tanah belum keluar,” ujarnya.
Selama proses ini sembari menunggu tanah wakaf yang sedang disertifikatkan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Surabaya, sehingga munculnya persoalan dimana salah satu wali murid yang anaknya bernama Nabila Mutia Maharani Darmawan memiliki kemampuan dibawah rata-rata. Mendatangi sekolahan dengan marah-marah karena mendapatkan laporan sepihak dari anaknya dan sempat wali murid bernama Dian itu memukul kepala sekolah serta beberapa guru.
“ Saat itu minta surat pindah dan sudah kita berikan surat pindah itu namun Bu Dian (Wali Murid. Red) tidak mengambil malah melaporkan kepala sekolah ke Polsek rungkut dengan perbuatan tidak menyenangkan namun laporannya tidak terbukti,” ujarnya. Sembari menuturkan dengan ditolaknya kembali melaporkan kepolda Jatim dan kembali ditolak oleh pihak berwajib.
“ Dan akhirnya Bu Dian melaporkan ke Kepala Dinas Pendidikan tanpa angin tanpa hujan ada surat penutupan atau mergen dari Dinas Pendidikan ini yang membuat kami kaget, karena mereka tau kalau kita melaporkan Bu Dian ke Polsek Rungkut dan ditetapkan sebagai tersangka” katanya.
Anehnya, lanjut Susetyowati saat pihak SD Aisyiyah dipanggil oleh Dinas Pendidikan bukan mengenai ijin sekolah, melainkan mediasi supaya kita mencabut laporan kita dari polsek rungkut. Namun pihak sekolahan tidak mau mencabut karena itu sudah menjadi wewenang pihak berwajib. “ Dan Waktu itu Kepala Dinas sempat bilang kalau tidak mau mencabut ijin sekolah tidak akan kita keluarkan,” kata Susetyowati menirukan kata-kata Ikhsan Kepala Dinas Pendidikan. “ Waktu diajak pertemuaan kita kaget, kenapa tidak bahan ijin yang kita proses malah minta kita mencabut laporan kita ini yang membuat kami heran,” kata Susetyowati.(r4/r7).