Siswa SMAN Kompleks Deklarasikan Anti Tawuran

 Featured, Kesra

Surabaya (DOC-Para siswa, guru dan alumnus SMAN Kompleks merasa prihatin dengan maraknya tawuran antarpelajar di berbagai kota di Indonesia. Karena itu, mereka melakukan deklarasi dan penandatanganan MoU (nota kesepahaman) anti tawuran di Jl Wijaya Kusuma, Senin (29/10) pagi. Mereka bersama-sama berikrar memerangai tawuran dan narkoba.

Deklarasi  yang dibacakan empat Ketua OSIS SMAN Kompleks (SMAN 1, 2, 5 dan 9)  mendapat sambutan luar biasa. Apalagi, seluruh peserta upacara deklarasi anti tawuran dengan penuh semangat dan menjiwai menirukannya.

Puluhan  alumnus  tampak hadir pada upacara deklarasi  yang dipimpin Kepala Dinas Pendidikan Surabaya M Ikhsan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh  (alumnus SMAN 9) urung hadir karena ada tugas pemerintah. Begitu juga Walikota   Tri Rismaharini (alumnus SMAN 5) tak jadi datang karena upacara Sumpah Pemuda di Balai Kota.

Begitu juga sejumlah artis seperti Ahmad Dhani, Dewa Budjana, Astrid, dan artis-artis lain yang kebanyakan alumnus SMAN 2 juga tak jadi hadir. “Tapi semua peduli dan mendukung penuh deklarasi anti tawuran  dan narkoba ini,” ujar  Ketua Panitia Deklarasi Anti Tawuran dari Alumni, Gatot Sutantra usai upacara.

Menurut Gatot Sutantra (alumnus SMAN 9),  yang menggerakkan dirinya melakukan deklarasi adalah didasari rasa keprihatinan atas maraknya tawuran, peredaran miras dan narkoba di kalangan pelajar. “Karena itu, kami kumpulkan alumnus serta mengajak semua siswa dan guru untuk melakukan deklarasi  anti tawuran dan narkoba,”ungkapnya.

Karena itu, dikatakan  Gatot Sutantra yang juga Wakil Ketua  Bidang Pemenangan Pemilu DPD Hanura Jatim, Hari Sumpah Pemuda ini adalah momen bersejarah bagi pelajar yang notabene bagian dari generasi muda, agar SMAN Kompleks ini tidak terkontaminasi oleh aksi tawuran antarpelajar yang belakangan ini marak di berbagai kota di Indonesia.

“Kami para alumus ikut bertanggungjawab secara moral. Karena itu kita siapkan momentum deklarasi bersama untuk merukunkan. Sebab nilai-nilai kemanusiaan itu sangat mahal. Dan Alhamdullilah dapat respon positip dari para siswa, guru, kepala sekolah dan para alumnus,”tandasnya.

Lebih dari itu, Gatot Sutantra mengimbau kepada pelajar, khususnya di Surabaya, agar menghentikan tawuran. Sebab kekerasan seperti itu bukan budaya pelajar. (r-12/R9)