Situasi Dolly dan Jarak Semakin Tegang

Tidak ada komentar 204 views

Surabaya,(DOC) – Situasi di lokalisasi Dolly pasca deklarasi penutupan pada 18 Juni lalu hingga kini masih belum kondusif. Belakangan, muncul selebaran tertempel di wisma-wisma disepanjang gang Dolly. Isi selebaran tersebut meminta agar lokalisasi di Kelurahan Putat Jaya itu segera berhenti beroperasi. Dari selebaran itu dikeluarkan oleh Polda Jawa Timur (Jatim)

Tim Advokasi dari FPL, Anisa mengklaim bahwa, selebaran tersebut bukan dari Polda Jatim. Pasalnya, tidak ada kop surat yang menyebutkan selebaran itu berasal dari korps berbaju coklat tersebut. Kemudian, selebaran juga tidak disertai dengan tanda tangan dari Humas Polda Jatim. Dari informasi yang dia terima, selebaran yang dianggap sebagai bentuk intimidasi ini disebar dan ditempelkan oleh oknum dari Polsek Sawahan. Oleh pemilik wisma, selebaran tersebut langsung dicopot. “Saat ini, pihaknya langsung membentuk tim yang secara khusus mengusut tuntas, siapa dalang dibalik penyebaran selebaran itu. Jika sudah diketahui dalangnya, baru kemudian pihaknya akan mengambil langkah-langkah hukum lebih lanjut. Selebaran ini kami anggap sebagai bentuk intimidasi pada kami,” katanya, Selasa(24/6/2014).

Selain masalah selebaran, FPL kemarin juga melaporkan Mat Mochtar, pentolan dari kelompok yang mendukung penutupan Dolly. Pria bertubuh tambun itu dilaporkan ke Polrestabes Surabaya atas tuduhan penganiayaan. Adji Sudarmo, selaku pelapor mengatakan, dia dipukul oleh Mat Mochtar sesuai acara talk show dengan tema ‘Misteri Dibalik Penutupan Lokalisasi’ di salah satu stasiun televisi lokal. Peristiwa itu terjadi saat jeda dalam kondisi berlangsungnya acara. Tiba—tiba dia didatangi Mat Mochtar dan langsung dipukul oleh pria yang tinggal di Bulak Banteng tersebut. Dirinya dipukul sebanyak tiga kali. ’’Saya juga sempat diancam carok. Memang tidak ada luka serius yang saya alami akibat pemukulan itu. Tapi saya merasa terancam,” katanya.

Menanggapi pelaporan dari Adji Sudarmo ini, Mat Mochtar mengaku tidak takut. Dia siap membuktikan dihadapan penyidik kepolisian bahwa, dirinya tidak melakukan pemukulan. Menurut ketua Gerakan Rakyat Surabaya (GRS) ini, dia hanya menunjuk-nunjuk saja pada Adji. Ini karena pria asal Kelurahan Pakis Kecamatan Sawahan itu memancing emosinya. Ketika dirinya sedang memberi paparan dalam dialog di televisi tersebut, Adji selalu menyela dan menuduh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini tidak berpihak pada rakyat karena menutup Dolly. Padahal, posisinya hanya penonton saja. “Aku emosi, dia nyela terus ketika aku bicara. Setelah acara jeda karena iklan, saya datangi dia dan saya bilang, kamu jangan banyak mulut sambil tangan saya menunjuk dia. Dia kemudian lari dan jatuh karena ketakukan. Kalau saya ingin melukai dia, sudah tak bunuh dia,” kilahnya.

Sementara itu, kemarin sore, gang Dolly cukup ramai. Bukan karena aksi massa ataupun karena ada pengajian seperti beberapa waktu lalu. Keramaian gang yang terkenal seantero nusantara ini karena warga setempat sedang menyaksikan atraksi dari Mbah Gimbal, seorang magician. Dalam atraksinya, pria berambut gimbal ala Bob Marley ini dibungkus dengan selembar kain kafan. Saat dibungkus, tangannya sudah dirantai. Lalu, entah kekuatan dari mana, Mbah Gimbal bisa melepaskan diri dari jeratan rantai tersebut. Saat Mbah Gimbal berhasil melepaskan diri dari rantai itu, puluhan warga yang menyaksikannya, langsung memberi hadiah tepuk tangan meriah. “Kalian warga Dolly harus terus berjuang. Dolly ini merupakan bagian dari Kota Surabaya yang harus dipertahankan,” pesan Mbah Gimbal pada warga setempat.(lh/r7)