SMAK ST. Louis 1 Surabaya Lestarikan-Kembangkan Seni Ludruk

 Suara Rakyat

Surabaya (DOC) – Bahasa  yang medok, penggunaan kata yang sesekali kasar dan apa adanya membuat ludruk melekat erat dengan kehidupan masyarakat kelas bawah. Namun tak bisa dipungkiri jika kesenian itu asli Surabaya.

 

 Sebagai lembaga pendidikan yang ada di Surabaya, SMAK ST. Louis 1 sadar akan kewajiban ikut handarbeni (memiliki) dan nguri-uri ludruk yang cikal-bakalnya ada di Kota Pahlawan. Jangan heran jika di sekolahan yang mayoritas anak-didiknya keturunan Tionghoa itu ada kelompok ludruk.

 

Tidak ada nama khusus untuk kelompok kesenian tersebut. Ludruk SMAK ST. Louis 1 Surabaya adalah nama yang dipakai selama ini. SMAK ST. Louis 1 Surabaya memiliki 39 macam ekstrakurikuler. Semua itu terangkum dalam empat kegiatan, olahraga, seni, akademik, dan pembinaan.

 

Ludruk sendiri masuk dalam drama kontemporer sebagai sub kegiatan seni. “Nekad saja modalnya. Pada dasarnya saya suka drama bebas, teater dan sebagainya, termasuk ludruk. Saat saya ingin membentuk kelompok kesenian ludruk, tidak tahunya direspon Pak Kukuh dari TVRI Surabaya,” tukas Ignatius Jerry Prastiantono, pembina seni ludruk.

 

Jerry yang kesehariannya sebagai guru olahraga ini awalnya sempat gamang, apakah gagasan membikin kelompok kesenian ludruk direspon anak-didik. Maklum, siswa/i di sekolahan yang dikepalai Alexius Dwi Widiatna itu betul-betul mengedepankan prestasi akademik. Disisi lain, mayoritas pelajar adalah keturunan Tinghoa.

 

Tidak ada kata menyerah dalam kamus Jerry. Pria asli Surabaya ini lantas melontarkan gagasan ke para siswa/i. Gayung bersambut, respon murid bermunculan. Utamanya mereka dari jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

 

 Sejak 2010, ludruk sekolahan resmi terbentuk, yang sebelumnya diawali casting mereka yang minat. “Materi casting sederhana saja. Bahasa Jawa yang medok menjadi kunci untuk bisa lolos,” ungkapnya lagi.

 

 Dari 33 pelajar yang ada mendapat peran masing-masing. Ada pelaku utama sesuai lakon yang dipilih, pemeran figuran maupun para niyaga atau pengrawit yang tugasnya memainkan gamelan. Tak kalah pentingnya adalah pelawak yang tugasnya mengocok perut penonton.

 

 Billy Verian Salim dan Calvin Karunia Wijaya dari kelas XII IPS yang ketiban sampur memancing gelak-tawa penonton. Duo koplak adalah nama panggung keduanya.

 

“Salah satu prestasi ludruk SMAK ST. Louis 1 adalah masuk lima terbaik festival ludruk se Jatim di Taman Budaya Cak Durasim. Bahkan pelawak Duo Koplak sempat tampil bareng dengan seniman ludruk Agus Kuprit dan Cak Tawar,” beber Jimmy seraya tersenyum.

 

Sejak saat itu banyak tawaran mangung datang. Tak terkecuali dari Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Pakde Karwo sempat minta Duo Koplak juga tampil di Puspa Agro untuk menghibur. “Tawaran tampil banyak berdatangan, termasuk festival-festival. Tapi kami jarang memenuhi karena anak-anak memang difokuskan ke pendidikan. Jangankan tampil, untuk latihan saja sering tertunda jika jelang ujian,” sebutnya.

 

 Santo dan Sieni atau Sampek dan Engtay adalah lakon (judul) yang pernah diangkat dalam tampilan kesenian ludruk yang satu ini. Dua lakon itu samasama menggambarkan hubungan asmara keturunan Tinghoa dengan orang Jawa. Hubungan asmara antara si kaya dan si miskin.

 

Tak kalah menariknya, ludruk ini kerapkali tampil kolaborasi dengan jathilan, jaranan dan kubroan. Bahkan ada rencana memadukan dengan barongsai dan atau reog Ponorogo. Ketika reuni akbar dalam rangka ulang tahun SMAK ST. Louis 1 ke 60 belum lama ini, mereka juga tampil.

 

“Ke depan kami ingin terus menunjukan kekuatan seni di luar prestasi akademis. Kebudayaan Jawa yang selama ini ada juga akan dikenalkan di sekolah. Seperti merti bumi atau sedekah bumi. Yang sudah ada adalah malam tirakatan, sehari sebelum Hari Pahlawan,” katanya.

 

Tirakatan dalam rangka Hari Pahlawan di kompleks SMAK ST. Louis 1 Surabaya sangatlah berarti. Gedung sekolah yang dulunya sebagai tempat terbentuknya Polisi Istimewa oleh pemerintah Jepang serta tempat berkibarnya Bendera Merah Putih yang kedua untuk skala Indonesia.

 

Calvin dan Billy mengaku senang bisa menjadi ikon lawak ludruk sekolah. Mereka yang sebentar lagi lulus berharap adik-adik kelasnya bisa tertarik dan eksis main ludruk. Kendati hanya tiga tahun selama masa tempuh pendidikan.(K-7/R9)