Stadion GBT Belum Bertaraf International, Komisi C Minta Benahi Jalan Akses

Foto : stadion GBT saat laga Persebaya versus PSS Sleman

Surabaya,(DOC) – Kemegahan stadion Gelora Bung Tomo (GBT) bertaraf International nampaknya masih jauh dari harapan, sebelum infrastruktrur pendukung stadion tersebut dilengkapi.

Mengingat hingga kini, akses jalan menuju stadion GBT yang berlokasi di Benowo Surabaya itu, masih cukup memprihatinkan.  Bahkan beberapa kali event pertandingan bola, para penontonnya selalu menuai kekecewaan.

Pada event terakhir yaitu pertandingan antara tim Persebaya melawan PS Sleman beberapa waktu lalu, para penonton juga dibuat kecewa. Mereka terpaksa mencebur ke tambak warga untuk mencari jalan alternative menuju stadion GBT.

Menyikapi hal ini, Ketua Komisi C DPRD kota Surabaya, Saifudin Zuhri, menyatakan, sarana dan prasarana pendukung yang kurang memadai, maka GBT belum bisa disaakan dengan stadion lainnya yang bertaraf international.

foto ; Syaifudin Zuhri

“Akses masuknya hanya dua, yaitu dari Romokalisari dan Benowo. Jika kedua jalan itu dipenuh kendaraan para penonton, maka praktis lalu lintas lumpuh total. Sehingga perlu jalan alternative lainnya untuk menuju ke stadion GBT,” ungkapnya, Selasa(12/12/2017).

Apabila Pemkot sekarang masih belum bisa menambah kapasitas jalan, dirinya berharap agar pihak pengelola stadion dan panitia pelaksana (Panpel) bisa memperhitungkan jumlah penonton yang akan menyaksikan.

Menurut Syaifudin, teknis pembatasannya bisa dengan penjualan tiket masuk ke stadion yang dicetak sesuai dengan kapasitas tampung penonton. Bila perlu, ditetapkan dalam klausul perjanjian sewa – menyewa stadion. Dalam hal ini, Pemkot yang bisa melakukan selaku pengelola sekaligus pemilik stadion.

“Kapasitas tampung sekitar 50-55 ribu penonton. Seharusnya jangan menjual karcis sebanyak itu karena masih harus dikurangi dengan jumlah kursi undangan dll. Atau Pemkot selaku pemilik memasukkan soal itu sebagai pra-syarat sewa menyewa,” tandasnya.

Sebenarnya, masih Cak Ipuk, soal akses jalan masuk alternatif atau tambahan sudah menjadi wacana di pemkot Surabaya, bahkan kabarnya sudah ditahap perencanaan, yakni dibangunnya Jalur Lingkar Luar Barat (JLLB). Namun keseriusan Pemkot masih perlu dipertanyakan.

“Pembangunan JLLB ini akan membantu semua pihak, terutama masyarakat sekitar yang selama ini selalu terdampak penyelenggaraan pertandingan sepak bola di tempat itu, kan tidak semua masyarakat menjadi pecinta bola, sementara akses jalan itu menjadi satu-satunya yang dilewati,” katanya.

Untuk diketahui, Stadion yang sudah direncanakan sejak tahun 1990-an itu diresmikan pada Jumat, 6 Agustus 2010 oleh Walikota Surabaya, Bambang DH. Pada tahap awal stadion Gelora Bung Tomo dibangun di atas lahan seluas 20 hektar. Namun untuk pengembangan, stadion ini telah diplot menempati areal seluas 100 hektar.

Untuk tahap pertama, yang telah selesai dibangun terdiri dari tiga bangunan utama. Rinciannya bangunan Stadion Bung Tomo yang berkapasitas 55.000 orang menghabiskan anggaran Rp 440 milyar, Stadion Indoor berkapasitas 10 ribu orang dengan anggaran pembangunan Rp 63 milyar dan masjid berkapasitas 800 orang dibangun dengan biaya Rp 3 milyar. Menurut rencana Stadion Bung Tomo baru selesai secara total pada tahun 2020.

Pembangunan stadion yang kala itu disebut Surabaya Sport Center (SSC) sebenarnya sudah digagas sejak Walikota Poernomo Kasidi. Namun dalam perjalanannya sarat kontroversi. Bahkan sejumlah pejabat sempat diperiksa Bakorstansda. Kini, saat Pemkot Surabaya dipimpin Bambang DH, rencana spektakuler ini mulai terwujud tanpa banyak gejolak.

Apalagi Stadion Bung Tomo ini ternyata dirancang menjadi stadion bertaraf internasional, sehingga beberapa material pendukung sengaja didatangkan langsung dari luar negeri.(rob/r7)