Surabaya Harus Belajar Lagi Menata Taman Kota

Tidak ada komentar 140 views

Batu,(DOC) – Pemerintah kota Surabaya nampaknya harus melepas gengsi untuk belajar kembali merawat taman taman kota ke pemerintah kota Batu.
Jumlah taman atau ruang terbuka hijau di kota Batu memang tidak sebanyak di kota Surabaya, namun mereka cukup serius mengelolanya. Bahkan setiap liburan tiba, taman kota Batu yang di pusatkan di Alun Alun kota, bisa menghasilkan pendapatan yang cukup lumayan untuk menyumbang pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah(PAD).
Bila kita amati, taman Alun Alun kota Batu memang letaknya cukup strategis, dan pasti ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Mengingat disekitar taman terdapat fasilitas menunjang seperti Masjid dan Pasar Tradisional hingga Mall.
Tetapi sebenarnya bukan itu yang menjadi daya tarik para wisatawan untuk singgah. Tempat terbuka hijau yang luas dan bersih, bebas asap rokok dan wahana permainan balita sedap, sekaligus kincir angin yang bisa di naiki untuk melihat kota Batu dari ketinggian, merupakan pemikat utama wisatawan untuk mampir. Apalagi disaat libur hari besar seperti lebaran maupun tahun baru.
Menikmati kota batu dari ketinggian dengan menaikki wahana kincir angin, hanya di pungut Rp. 3000,- untuk sekali putaran. Murahnya tarif tersebut membuat pengunjung selalu membanjiri wahana tersebut.
Kenyamanan singgah di taman alun alun kota Batu ini, memang tidak hanya isapan jempol belaka, karena kebersihan disana selalu dijaga. Setiap menit petugas kebersihan dari pemkot Batu terus memantau sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung yang datang, dengan sapu dan sekrop sampah, petugas kebersihan tersebut membuangnya ake tempat sampah.
Disisi-sisi taman, terdapat out speaker yang memberikan warning ke para pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan dan merokok di smoking area. Jika ada yang melanggar maka petugas akan memberikan teguran keras.
Lebih kurang 4 lokasi smoking area yang disediakan di pinggir taman alun alun kota Batu. Tidak mewah dan bebas dari kesan mendiskreditkan para perokok, smoking area di desain terbuka, layaknya halte bus atau ruang tunggu.
Begitu pula dengan tempat bermain balita, para pengunjung yang mengajak putra-putrinya harus melepas alas kaki untuk bisa mengajak anaknya bermain.
Sementara di sudut taman alun alun kota, terdapat beberapa bangunan yang di bentuk menyerupai icon kota, yaitu buah Apel dan Strawberry, Patung Sapi dan Botol Susu segar.
“saya bayangkan kalo Surabaya bisa didesain seperti ini, mungkin bisa menjadi tempat singgah yang nyaman,” ujar Didit Salah satu wisatawan asal Surabaya , saat singgah di Alun-alun kota Batu, Minggu(11/8/2013).
Tempat wisata di kota Batu memang cukup tersohor di negeri ini. Bukan hanya hawa dingin dan pemandangan yang indah, namun berbagai arena wisata disana telah tersedia, seperti Kawasan Jatim Park 1 – 2, Wisata Agro Kusuma, Batu Night Style hingga wisata air terjun Cuban Rondo yang bisa menyedot para wisatawan dari luar kota Batu sampai luar Provinsi Jawa Timur untuk mampir. Namun di saat libur hari besar, tempat wisata tersebut pasti ramai dibanjiri oleh para wisatawan dari berbagai kota, yang membuat ketidaknyamanan berwisata dan kemacetan yang luar biasa.
“Ya itu yang menjadi faktor utama saya mampir ke Alun Alun kota Batu. Karena hampir semua tempat wisata di sini macet dan padat. Disini(taman Alun-Alun Kota Batu,red) saya dan keluarga sedikit terobati rasa kekecewaan saya,” cetus Didit yang mengaku berwisata ke Batu dengan membawa 2 rombongan keluarga.
Jika dibandingkan dengan kota Surabaya, Hampir di setiap sudut kota terdapat taman dan ruang terbuka hijau yang indah serta terlihat nyaman untuk disinggahi seperti diantaranya, Taman Bungkul, Taman Prestasi, Taman Mundo, Taman Pelangi dan Kebun Bibit. Namun sayangnya, kekumuhan masih terlihat, sampah berserakkan dan bahkan digunakan untuk tempat berpacaran para remaja.
“Jika pemkot Surabaya mau serius, maka taman-taman tersebut bisa menjadi lebih bersih serta nyaman dan indah, bahkan bisa menghasilkan PAD,” sarannya.(r7)