Surabaya Kembangkan Metode Panen Garam

Tidak ada komentar 373 views

Surabaya, (DOC) – Dinas Pertanian (Distan) Kota Surabaya akan menyelenggarakan panen garam di Ngendong, Kelurahan Romokalisari, Kecamatan Benowo pada Minggu (21/10/2012). Menariknya, panen yang bakal di hadiri Walikota Tri Rismaharini ini adalah yang pertama dengan sistem teknologi tepat guna (TTG).
Metode yang dimaksud yakni sistem Terpal Ulir Filter dan Destilator Tenaga Surya. Dengan cara baru itu, garam yang dihasilkan lebih berkualitas dan warnanya lebih putih. “Ini bisa dilihat sendiri. Dari warnanya sudah kelihatan berbeda, garam dengan metode Terpal Ulir warnanya lebih putih dibandingkan dengan yang menggunakan cara tradisional,” kata Kadistan Samsul Arifin sambil menunjukkan sampel garam di Kantor Humas Pemkot Surabaya, Kamis (18/10).
Garam yang dihasilkan dengan metode tersebut termasuk golongan kualitas II (kw II) yang harga pasarannya Rp 560 per kg. Sebagai perbandingan, garam kw I saat ini berkisar Rp 750 sedangkan garam metode tradisional dengan kategori kw IV seharga Rp 260.
Terkait teknis metodenya, Samsul menjelaskan, lahan tambak mulanya dilapisi dengan terpal. Fungsinya untuk menjaga agar air tetap bersih. Kemudian air laut di filter terlebih dahulu sebelum kemudian dialirkan masuk ke tambak dengan pompa, dengan begitu air dalam tambak akan terus berputar.
“Kalau cara tradisional air laut langsung dimasukkan ke tambak dan diendapkan begitu saja sehingga memungkinkan ada kotoran yang masuk. Itu bisa berpengaruh terhadap kualitas garam yang dihasilkan,” ungkapnya.
Metode Terpal Ulir Filter membutuhkan proses 20 hari namun bisa lebih cepat. Pasalnya, berdasarkan pantauan dengan viskositas (tingkat kekentalan) air 12% saja sudah mampu memunculkan bunga-bunga garam. Berbeda denga metode tradisional yang membutuhkan viskositas 20%. Dengan demikian, produktifitas garam bisa lebih baik.
“Kegiatan panen garam ini merupakan momentum untuk meningkatkan kualitas garam di Surabaya. Semoga kedepan metode ini bisa lebih berkembang,” tandas Samsul.
Untuk diketahui, panen garam tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Peringatan HCPSN akan ditandai dengan penanaman pohon dan pelepasan 550 burung di hutan kota pakal.
Menurut Samsul, apa yang dilakukan terhadap puspa dan satwa akan berpengaruh kepada alam. Ia lantas mencontohkan, fenomena wabah ulat bulu dan tomcat yang pernah melanda beberapa daerah termasuk Surabaya. Hal tersebut terjadi karena maraknya penembakan burung, yang merupakan predator ulat bulu dan tomcat. (R4)