Surabaya Komitmen Sebagai Kota Layak Anak

Tidak ada komentar 149 views

Surabaya, (DOC) – Di saat kota-kota lain baru menggulirkan program kota layak anak, Kota Surabaya sudah tiga kali beruntun mendapatkan penghargaan sebagai kota layak anak. Untuk semakin memantapkan status Kota Surabaya sebagai kota layak anak, Walikota Surabaya bersama jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Kota Surabaya dari unsur pimpinan DPRD Surabaya, Polrestabes Surabaya, Kejaksaan Surabaya, Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) serta elemen dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim dan Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) peduli anak, melakukan penandatanganan komitmen, Sabtu (14/9). Penandatangan komitmen itu dilakukan pada puncak peringatan Hari Anak Nasional yang dipusatkan di Taman Flora, Surabaya.
Kota Surabaya memang telah menjadi kota yang ramah bagi anak-anak. Faktanya, Kota Surabaya secara tiga kali beruntun mendapat penghargaan sebagai kota layak anak tahun 2011, 2012 dan 2013 untuk kategori Nindya. Ada beberapa indikator dari lima kluster yang bisa dipenuhi Surabaya. Yakni hak sipil dan kebebasan, lingkungan keluarga dan pengasuhan alternative, kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan, pemanfaatn waktu luang dan kegiatan budaya serta perlindungan khusus.
Walikota Surabaya, Ir Tri Rismaharini MT dalam sambutannya mengatakan, hal yang terpenting sejatinya bukan pada penghargaan yang diterima Kota Surabaya sebagai Kota Layak Anak. Tetapi lebih kepada bagaimana untuk mewujudkan Kota Surabaya sebagai tempat hunian yang memang ramah bagi anak-anak.
“Bukan penghargaan yang kita cari, penghargaan bukan satu-satunya tujuan. Tetapi bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana menciptakan anak-anak Surabaya itu bisa aman dan nyaman,” tegas Walikota Risma.
Dijelaskan Walikota Risma, untuk memantapkan Kota Surabaya sebagai kota layak anak, Pemkot tidak mau bersikap kaku semisal harus melalui procedural Perda. Tetapi, esensi utama perwujudan Kota Surabaya sebagai kota layak anak adalah diberikannya ruang yang leluasa kepada anak-anak untuk mendapatkan kesempatan dalam mengembangkan potensi diri. Menurut walikota, adanya ruang untuk berkembang itu sangat penting karena anak merupakan penerus dan penentu majunya suatu kota dan bangsa di masa mendatang. Untuk mewujudkan
“Yang penting di usia anak-anak, mereka sadar untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Kita juga beri ruang pada anak-anak untuk mendapatkan peluang karena tantangan ke depan lebih berat. Kita ajarkan mereka untuk meraih sesuatu dengan bekerja keras. Karena, bagaimana negara ini nantinya bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia, itu tergantung pada anak-anak,” sambung walikota Risma.
Walikota perempuan pertama di pemerintahan Kota Surabaya ini menekankan bahwa tidak mudah untuk mewujudkan kota layak anak. Ini karena ada godaan yang sewaktu-waktu mengancam kenyamanan dan keamanan anak-anak. Selain ancaman trafficking, ancaman nyata lainnya bisa berupa perkembangan teknologi informasi. Karena itu, dalam kesempatan tersebut, walikota mengingatkan kepada murid-murid sekolah dan juga para guru, untuk bersama-sama melawan ancaman pergaulan bebas, trafficking dan juga pemakaian narkoba pada anak-anak.
“Kita perlu turun dan melakukan sosialiasi. Bapak ibu guru juga tolong disampaikan ke anak-anak bahaya pergaulan bebas. Titik kritisnya itu pada kelas 6 SD dan SMP. Kalau di fase itu aman, Insya Allah ketika SMA akan selamat,” sambung walikota.
Sementara Ketua DPRD Surabaya, Mochamad Machmud menegaskan, upaya memantapkan Kota Surabaya sebagai Kota Layak Anak tidak hanya diwujudkan dalam bentuk komitmen. Lebih dari itu, ada banyak kegiatan serta fasilitas sarana dan prasarana yang pro terhadap perkembangan anak.
“Saya melihat sendiri Surabaya memang kota layak anak. Di Surabaya, anak-anak sekolah diberi fasilitas dan saluran untuk mengekspresikan kemampuan mereka. Bukan cuman ungkapan tetapi kenyataan karena kalau ngomong saja gampang,” ujar Machmud.
Mantan wartawan ini menambahkan, meski Surabaya sudah menjadi kota layak anak, tetapi ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk memantapkan Kota Pahlawan sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk anak-anak.
“Salah satu PR nya adalah mengatasi efek dari penyediaan fasilitas. Di satu sisi, Pemkot menyediakan fasilitas tetapi disisi lain, pertumbuhan fasilitas juga jadi penyebab rusaknya generasi muda. Seperti misalnya peredaran Miras dan rumah karaoke. Itu harus diatur sehingga tidak ada kendala mewujdukan Surabaya kota layak anak,” sambung Machmud.
Kota Surabaya memang sudah melakukan langkah nyata dalam mewujudkan sebagai kota layak anak. Diantaranya dengan menggelar lomba antar kecamatan sebagai kecamatan layak anak. Hasilnya, Kecamatan Tandes menjadi juara I kecamatan yang ramah anak diikuti Kecamatan Wonokromo sebagai juara II dan Kecamatan Rungkut sebagai juara III.
Acara yang dihadiri jajaran SKPD Pemkot Surabaya, Muspika dan juga ratusan anak-anak sekolah di Surabaya itu semakin semarak dengan penampilan dari anak-anak Surabaya seperti tari Saman, samrohan SDN Kalikedingding yang menjadi juara I lomba samrohan tingkat Provinsi Jatim 2013, anak-anak Ponsos UPTD yang memainkan rebana, serta aksi dalang cilik, Bayu Wiyatwijaya.(r4)