Surabaya Menuju Era Perkoperasian yang Lebih Baik

Tidak ada komentar 136 views

Surabaya, (DOC) – Momentum peringatan Hari Koperasi ke-66 dimanfaatkan para pelaku koperasi Surabaya untuk berkembang menjadi lebih baik. Ratusan koperasiwan -sebutan pelaku koperasi- yang berkumpul di Graha Sawunggaling, Kamis (27/6/2013), sepakat bahwa koperasi mampu bersaing dalam era perdagangan modern.
Fakta menunjukkan, tiap tahun, jumlah koperasi di Surabaya semakin meningkat. Berdasar data pemerintah kota (pemkot), sampai Mei 2013, tercatat ada 1.560 koperasi dengan total anggota sebanyak 252.165 orang. Keberadaan badan usaha yang mengedepankan asas kekeluargaan itu terbukti dapat menggerakkan roda perekonomian secara signifikan. Buktinya, volume usaha ribuan koperasi di Surabaya menembus angka Rp 839 miliar. Sedangkan sisa hasil usaha (SHU) yang dibagikan sebesar Rp 77 miliar per tahun.
“Melihat potensi koperasi itu, diharapkan mampu mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui kegiatan-kegiatan usaha koperasi,” kata Asisten Kesejahteraan Rakyat, Sekretaris Kota (Sekkota) Surabaya, Eko Haryanto.
Dikatakan Eko, pemkot secara konsisten memberikan penguatan lembaga maupun usaha koperasi melalui kegiatan-kegiatan pemberdayaan. Diantaranya, sosialisasi perkoperasian, fasilitasi promosi produk unggulan, fasilitasi temu usaha, serta pembinaan dan pendampingan koperasi. “Saya yang ditunjuk mewakili Wali Kota Surabaya mengucapkan selamat Hari Koperasi ke-66. Semoga momen ini dapat menjadi ajang evaluasi agar kinerja jadi lebih baik demi kemajuan koperasi,” ujarnya.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Dinkop dan UMKM) Surabaya, Hadi Mulyono, mengatakan, sekarang ini hubungan antara koperasi dengan masyarakat sudah semakin dekat. Salah satu yang menjadi acuan, yakni 65 persen koperasi di Kota Pahlawan merupakan jenis koperasi masyarakat. Artinya, latar belakang berdirinya koperasi serta pengelolaannya lahir dari inisiatif masyarakat. “Itu menandakan saat ini koperasi bukan lagi sebagai sebuah keinginan, melainkan sudah menjadi kebutuhan warga,” katanya.
Ditanya soal masih adanya koperasi yang tidak berkembang, Hadi mengungkapkan penyebabnya. Dia lantas menggolongkan koperasi menjadi dua macam, yaitu koperasi merpati dan koperasi sejati. Koperasi merpati mempunyai sifat seperti burung merpati, yang akan datang dan berkerumun hanya kalau ada jagung. Dengan kata lain, koperasi hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah saja, tanpa didasari dengan komitmen anggotanya. Nah, yang seperti ini, kata Hadi, cepat atau lambat akan jatuh.
Sebaliknya, koperasi sejati adalah usaha yang dilandasi dengan nilai-nilai semangat perkoperasian. Keanggotaanya sukarela, selalu mengedepankan kebersamaan, kekeluargaan, kegotong-royongan serta dikelola secara terbuka. “Koperasi sejati inilah yang akan bertahan, bahkan bisa berkembang dengan baik,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu juga dilakukan penyerahan hadiah kepada 30 pemenang lomba koperasi. Beberapa kategori yang dilombakan melibatkan kalangan pemuda dan pelajar. Hal itu sesuai dengan tekad pemkot yang ingin menumbuhkan jiwa enterpreneur sejak usia dini. Menurut Hadi, pemberdayaan generasi muda akan sangat bermanfaat bagi koperasi dalam mengantisipasi perubahan yang terjadi di masa mendatang. Semangat berwirausaha juga dapat merangsang terciptanya usaha baru yang banyak melibatkan para pemuda dan pelajar. (r4)