Surabaya Sabet Dua Kategori MDGs Awards 2013

Tidak ada komentar 214 views

Surabaya,(DOC) – Surabaya berhasil meraih Millenium Development Goals (MDGs) Awards 2013. Tak tanggung-tanggung, Kota Pahlawan sukses menyabet dua kategori sekaligus, yakni kategori pendidikan dengan bidang pengembangan layanan perpustakaan umum Kota Surabaya dan kategori kesehatan ibu dan anak melalui pembentukan kelompok KB pria vasektomi. Penghargaan tersebut diterima Walikota Tri Rismaharini di Ballroom Jakarta Theatre, Jl. MH. Thamrin No. 9, Jakarta Pusat pada Sabtu (15/3) malam.
Dalam sambutannya, Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs, Prof. DR. Nila F. Moeloek mengatakan, melalui tema “Beraksi untuk Negeri”, Indonesia MDGs Awards 2013 mencoba menjawab berbagai tantangan yang masih harus dihadapi. MDGs merupakan jawaban terhadap kondisi pembangunan manusia yang berkembangdi seputar pergantian milenium. Keprihatinan terhadap angka kemiskinan, kematian ibu dan anak, akses pendidikan dan fasilitas kesehatan, serta lingkungan yang buruk menggarisbawahi kenyataan bahwa masih banyak yang harus dikerjakan demi merealisasikan tujuan-tujuan pembangunan.
Moeloek menambahkan, penyelenggaraan Indonesia MDGs Awards dilandasi oleh pandangan bahwa upaya percepatan pencapaian target-target MDGs bisa berjalan lebih efektif dan terarah bila prestasi pembangunan diberikan apresiasi yang selayaknya. “Pemberian penghargaan sebagai apresiasi terhadap praktik-praktik cerdas yang dihasilkan oleh para pemangku kepentingan,” ujarnya.
Sementara, Walikota Tri Rismaharini menyatakan, dua penghargaan yang baru saja diperoleh didedikasikan kepada seluruh warga Surabaya yang telah mendukung program-program pemerintah kota (pemkot). Untuk bidang pendidikan dengan substansi pengembangan layanan perpustakaan umum, Risma menjelaskan bahwa mewujudkan masyarakat yang gemar membaca sudah menjadi prioritas pemkot beberapa tahun terakhir. Buktinya, saat ini taman baca dan perpustakaan sudah dapat dijumpai di 980 titik lokasi di Surabaya. Lokasi-lokasi tersebut meliputi sekolah, balai RW, puskesmas, rumah sakit, dan taman-taman dengan koleksi mencapai 1 juta buku.
Menurut Risma, kekuatan perpustakaan Surabaya terletak pada respon masyarakat yang sangat aktif. Salah satu indikatornya yakni terjadinya peningkatan minat baca masyarakat. Dalam setahun terakhir jumlah kunjungan ke perpusatakaan dan taman baca tercatat sebanyak 14.206.000 kunjungan.
Dan ternyata, tidak sedikit pula masyarakat yang memperoleh manfaat secara ekonomi dari membaca buku di perpustakaan maupun tamam baca. “Banyak sekali warga yang mulai membuka usaha kecil atau menengah setelah mendapat ilmu dari buku yang dibaca. Dengan demikian, dapat dikatakan keberadaan perpustakaan memberi manfaat yang efektif,” ujar orang nomor satu di Pemkot Surabaya ini.
Selain itu, walikota juga menjelaskan keterkaitan antara kesehatan ibu dan anak dengan pembentukan kelompok KB pria vasektomi. Selama ini, sasaran program KB selalu dikaitkan dengan ibu-ibu. Padahal, beban yang harus dipikul seorang ibu sudah cukup berat. Mulai dari menjalani masa-masa kehamilan, menyusui, merawat anak, hingga mengurus pekerjaan rumah tangga. Beban tersebut semakin bertambah jika sang ibu juga menjalani program KB. Padahal, lanjut dia, tidak semua metode KB cocok dengan kondisi tubuh ibu. “Nah, kalau ibu sampai terganggu kesehatannya, maka anak-anak juga akan terpengaruh. Oleh karenanya, sasaran KB kini tidak hanya ibu-ibu melainkan kaum pria juga didorong aktif ber-KB,” terangnya.
Dikatakan Risma, MOP (metoda operasi pria) atau yang biasa dikenal dengan istilah vasektomi jauh lebih mudah, cepat dan tidak menimbulkan efek samping dibanding MOW (metoda operasi wanita). Proses MOP pun cukup singkat, hanya membutuhkan waktu 10-15 menit saja.
“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada seluruh warga kota yang telah mendukung suksesnya program-program di Kota Surabaya. Namun demikian, yang terpenting bukanlah penghargaan yang diraih tapi bagaimana masyarakat dapat terlayani dengan baik. Itu intinya,” pungkas Risma yang terpilih menjadi walikota terbaik dunia edisi Februari 2014 versi Citymayor.

Perpustakaan Berdayakan Petugas, KB Libatkan Peserta MOP

Saat menerima penghargaan MDGs di Jakarta, Walikota Tri Rismaharini didampingi beberapa kepala SKPD. Diantaranya, Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan (baperpus) Arini Pakistyaningsih, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan KB (bapemas KBS) Nanis Chairani, Kepala Dinas Sosial Soepomo, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Chalid Buhari, dan Kabag Humas M.Fikser.
Arini yang turut mendampingi walikota mengatakan, baperpus punya beberapa strategi guna mendongkrak minat baca masyarakat di perpustakaan. Yang pertama yaitu mengoptimalkan peran petugas penjaga perpustakaan dan taman baca. Sedikitnya ada 425 petugas yang diberi pelatihan. Tujuannya, untuk mengajak masyarakat aktif membaca. Mereka juga dibekali pola komunikasi khusus terhadap anak supaya anak-anak tertarik dan merasa nyaman berada di perpustakaan. “Petugas biasanya merangsang minat baca anak dengan cara bernyanyi dan menari sehingga anak-anak merasa senang,” tuturnya.
Kiat kedua, yakni dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai. Jika ingin perpustakaan ramai dikunjungi, maka fasilitasnya harus memadai. Fasilitas yang dimaksud meliputi koleksi buku, kenyamanan ruangan seperti AC atau kipas angin, dan kebersihannya. Pengalokasian buku pun tidak sembarangan. Buku-buku yang ditempatkan di suatu taman baca telah melalui pertimbangan tertentu. Dengan demikian, buku-buku tersebut akan cocok dengan lingkungan pembacanya. “Misalnya di daerah yang banyak potensi di bidang tanaman yang kita kasih buku-buku tentang flora. Atau di kawasan Kenjeran, buku-buku di sana lebih banyak tentang perikanan dan produk kelautan. Diharapkan dengan cara begitu akan banyak usaha-usaha baru yang bermunculan dengan memaksimalkan potensi lokal,” papar Arini.
Di sisi lain, Kepala Bapemas KB Nanis Chairani menyatakan bahwa keberhasilan KB MOP di Surabaya merupakan sebuah proses sejak tahun 2011. Kala itu, peserta MOP masih belum terlalu banyak. Hal ini juga tak lepas dari petugas lapangan KB (PLKB) yang didominasi kaum hawa. Dari 62 petugas yang laki-laki hanya 7 orang. Pun demikian halnya dengan kader IMP, mayoritas adalah perempuan.
Nah, berangkat dari situ lantas muncul ide membentuk kelompok KB vasektomi. Kelompok ini dihuni para peserta MOP. Mereka turut aktif memberikan testimoni dan sosialisasi. Dikatakan Nanis, keberadaan kelompok KB vasektomi tersebut ternyata membawa dampak positif. Pada 2012, dari target sekitar 120 peserta realisasi yang dicapai malah 300-an orang. Jumlah tersebut meningkat pada 2013 menjadi 700 orang. “Untuk tahun ini, sampai pertengahan Februari saja sudah 112 pria yang menjalani KB vasektomi,” beber mantan Camat Tambaksari ini.
Ke depan, dengan target yang terus meningkat, Nanis mengatakan pihaknya akan terus memacu capaian dengan melibatkan bapak-bapak yang sudah ikut MOP. Mereka akan bergabung dalam sosialisasi/penyuluhan di terminal, pasar, mall, bahkan di perumahan-perumahan.
“Kaum bapak tidak perlu khawatir ikut KB, karena sudah banyak contoh keberhasilannya. Tentu tujuan KB ini bermuara pada kesejahteraan keluarga,” katanya.(humas/r7)