Surabaya Terpilih Gelar Kongres JKPI

Tidak ada komentar 184 views

Peserta JKPI mengamati koleksi museum BI

Surabaya, (DOC) – Kota Surabaya didaulat menjadi tuan rumah Kongres II Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Dipilihnya Kota Surabaya berdasarkan Rakernas II JKPI di Pekalongan pada 1-3 April 2012. Kegiatan ini akan berlangsung mulai 22 hingga 24 Oktober 2012.

Sebanyak 48 kota/kabupaten anggota JKPI yang diwakili oleh kepala daerah atau pejabat terkait hadir dalam kongres tahun ini. Mereka akan mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan selama 2 hari penyelenggaraan. Beberapa acara yang dimaksud antara lain, pameran foto heritage, pameran UMKM, city tour, dan sidang anggota JKPI pada Selasa (23/10/2012) di Hotel Majapahit.

Tujuan forum tersebut adalah untuk memperkokoh akan pentingnya pusaka alam, budaya, dan saujana. Selain itu, untuk menyusun strategi kesinambungan gerakan pelestarian pusaka, serta membangun jaringan pelestarian di tingkat ASEAN.

Mengawali rangkaian kegiatan, pada hari pertama para peserta di ajak berkeliling Surabaya, mengunjungi beberapa cagar budaya dan tempat-tempat yang kental nuansa budaya. Senin (22/10/2012) pagi, sekitar pukul 08.30, rombongan yang diangkut 3 bus mulai beranjak dari Taman Surya. Lokasi pertama yang dikunjungi yakni Klenteng Hok An Kiong  dan rumah Abu Han di kawasan pecinan Jl Coklat. Di sana, para peserta disambut atraksi barongsai dan tarian liang-liong. Tak hanya itu, mereka juga disuguhi kuliner khas Cina. Seperti bakpia, bakpao, kuetok, bacang, kue mangkok, mocha.

Selanjutnya, peserta meluncur ke wisata religi Sunan Ampel kemudian singgah di eks De Javasche Bank (museum Bank Indonesia). Di museum yang terletak di Jl Garuda itu, para peserta melihat koleksi pecahan mata uang lama sembari menikmati arsitektur dan ornamen bangunan zaman kolonial Belanda yang masih kokoh berdiri.

Setelah itu, perjalanan dilajutkan menuju ke rumah  Alm. Roeslan Abdul Gani di kampung Plampitan. Di sana rombongan disuguhi jajanan pasar dan makanan khas Surabaya seperti tahu campur, tahu tek, rujak uleg, dengan iringan musik gamelan jawa.

Tempat terakhir yang dikunjungi adalah Rumah Sakit Darmo sebelum semua peserta kembali ke Taman Surya sekitar pukul 15.00. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Wiwiek Widayati mengatakan dalam city tour peserta diajak berkunjung ke beberapa bangunan cagar budaya. Tujuannya untuk mengenalkan bahwa kota Surabaya mempunyai komitmen tinggi dalam memelihara bangunan cagar budaya. “Kita ingin menunjukkan kepada mereka bahwa di Surabaya masih banyak bangunan cagar budaya yang terpelihara dengan baik dan masih berfungsi,” terangnya disela-sela perjalanan.

Putu Tony Martana Wijaya, salah seorang peserta kongres menyebut cagar budaya dan kultur yang ada di Kota Surabaya sangat kontras, masih terjaga bahkan hidup berdampingan dengan modernisasi. “Saya kagum dengan kota Surabaya, tak hanya segi fisik bangunan cagar budaya yang dapat dipertahankan tetapi budaya itu sendiri masih terpelihara dengan baik. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa atraksi yang ditampilkan saat menyambut kedatangan rombongan JKPI,” ucap pria yang menjabat sebagai Kasi Penataan Ruang di Dinas Tata Ruang Kota Denpasar ini. (R4)