Tahun 2014, Dolly Surabaya Ditutup

Tidak ada komentar 156 views

Surabaya, (DOC) – Mulai tahun 2010 yang lalu, pemerintah Provinsi Jawa Timur telah membuat program untuk mengurangi kemaksiatan di seluruh Jawa Timur. Dan pada tahun 2014 nanti, Dolly yang ada di Surabaya dan merupakan tempat lokalisasi terbesar ini akan ditutup.
Pernyataan itu disampaikan Gubernur Jatim yang lekat disapa dengan Pakde Karwo ini ketika memberikan sambutan atau pengarahan pada cara Pengajian dan pemberian santunan pada 13 ribu kaum Duafa dan Yatim Piatu se Malang Raya di Ballroom Jl. Tlogo Mas No. 1 Malang, Minggu (21/7/2013).
Pakde Karwo mengatakan, Pakde dan Gus Ipul selaku Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur beberapa kali dipanggil para Kyai Sepuh, beliau mengatakan teruskan guyup dan rukun- rurkun dalam membangun Jawa Timur. Untuk itu, teruskanlah langkah dalam memimpin dan membangun Jawa Timur agar bisa lebih baik dan menyelesaikan semua program yang telah dibuat. “ Tetapi, ada tiga persyaratan dan permintaan yang harus kami lakukan sebagai pemimpin Jawa Timur supaya pembangunan bias berhasil. Yakni kurangi dan hilangkan kemaksiatan di Jatim, perhatikan sekolah yang berbasis Agama serta yang ketiga adalah tumpas dan laranglah aliran sesat. Kalau ketiga masalah yang bias mendatangkan Azab Allah itu dibasmi dan dihilangkan saya Yakin Jawa Timur pasti jaya dan sejahtera,” jelas Pakde menirukan perkataan Kyai Sepuh Jawa Timur.
Oleh karena itu, sejak tahun 2010 lalu pemprov telah melakukan pengurangan PSK yang ada di lokalisasi- lokalisasi yaitu dari 7.217 PSK yang ada, saat ini telah berkurang sekitar 3000-an PSK dan sisanya sekarang tinggal 4.300-an lebih Caranya, pemprov bekerjasama dengan Ustad untuk memberikan pencerahan di lokalisasi tujuan agar mereka sadar dan insyaf bahwa yang selama ini dia kerjakan itu haram dan tidak baik bagi kesehatan mereka sendiri. Selain itu, pekerjaan menjual diri adalah pekerjaan yang sangat dimurkai Allah.
Mengapa pemprov bekerjasama dengan ustad, karena untuk memberikan pencerahan pada para PSK itu dibutuhkan kesabaran dan harus dilakukan dengan cara siraman rohani. Karena yang sakit adalah jiwanya dan badannya. Alhamdulillah setelah diberikan pencerahan dan pelatihan beberapa kali, akhirnya membuahkan hasil yakni banyak dari mereka yang pulang ke kampung masing- masing untuk membuka usaha sesuai dengan ketrampilan yang mereka ambil ketika mengikuti pelatihan. Saat pulang, mereka mendapat uang saku sebesar Rp 3,5 juta dari pemprov Jatim sebagai modal awal usaha mereka.
Untuk syarat kedua yaitu pendidikan atau sekolah yang berbasis agama, yakni sekolah diniah ( Ula dan Wustho) sekarang ini sudah ada Bosdanya dan program seperti ini hanya ada di Jawa Timur. Karena di provinsi lain belum ada program pendidikan yang memberikan Bosda untuk sekolah berbasis agama. Sedang untuk aliran sesat, pemprov. Jatim juga telah melarang penganut aliran sesat. Larangan itu telah diperkuat dengan keluarnya PERGUB ( Peraturan Gubernur )Jatim. “ Sehingga jenis aliran apapun yang bias menyesatkan masyarakat dengan tegas dilarang dan dibasmi atau dienyahkan dari Jawa Tmur, karena landasannya sudah jelas yakni Pergub. Jatim,” tegas Pakde Karwo di depan 13.ooo orang lebih.
Di tempat yang sama Gus Ipul mengatakan, apa yang disampaikan Pakde Karwo itu memang benar adanya. Kyai sepuh memanggil kami berdua dan kami diminta
membasmi aliran sesat serta mengurangi dan menghilangkan kemaksiatan di Jatim. Karena dengan mengurangi kemaksiatan maka segala pembangunan akan bias berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan.” Sebab, bila kemaksiatan tidak dihilangkan maka masyarakat Jawa Timur akan selalu mendapat laknat Allah dan petaka terus dating silih berganti. Sehingga bias menghambat jalannya pembangunan yang telah dibuat,” kata Gus Ipul menambahkan yang disampaikan Pakde Karwo.
Pemprov Jatim selama dua tahun terakhir telah menutup lokalisasi yang ada di beberapa tempat atau kota di Jatim. Yaitu di Surabaya 2 lokalisasi, di Blitar 3 lokalisasi, di banyuwangi 3 lokalisasi,dan di Kaediri 2 lokalisasi serta di Jember 2 lokalisasi.
Sebelum mengakhiri sambutannya Gus Ipul menambahkan, bulan suci Ramadhan adalah bulah berkah dan bulan penuh ampunan serta bulan penuh mafiroh. Untuk itu, sekarang ini kami berdua ( Pakde Karwo dan Gus Ipul) ikut dating kesini untuk mengalap berkah dengan acara seperti ini. Acara pengajian dan pemberian santuan kepada para duafa dan anak yatim piatu adalah pekerjaan yang mulia dan sangat senenagi oleh Allah SWT. “ Kerana dengan menayantuni duafa dan anak yatim piatu maka kita ikut meringankan beban yang mereka pikul,” jelasnya.
Sementara itu Ketua DPD PITI se Malang Raya H. Moch. Anton sekaligus Walikota Malang yang baru terpilih tetapi belum dilantik ini mengatakan, pengajian dan pemberian santuan kepada para duafa dan anak yatim piatu ini telah dilakukan sejak 10 tahun yang lalu. Tepatnya dimulai tahun 2003 yang lalu dengan jumlah penerima sekitar 2.ooo – 3.000 orang. Tetapi dengan ridho Allah dan berjalannya waktu, maka pengajian dan santuan yang diberikan terus bertambah sampai hari ini telah terbambah banyak yakni sekitar 13.000 orang dari warga se Malang raya.
Jumlah 13 ribu orang penerima santuanan itu terdiri dari 10 ribu anak yatim piatu dan 3 ribu kaum duafa. Dari jumlah tersebut diatas, sebanyak 11 ribu orang berasal dari Kota Malang sedang yang dua ribu lainnya berasal dari Kabupaten malang dan Kota Batu. Sedang santuanan yang diberikan saat ini, sebesar Rp 200 ribu kepada Duafa dan Rp 100 ribu pada anak yatim piatu ditambah satu bingkisan.
Dan yang digunakan untuk acara ini semuanya bersumber dari para donator dari pemilik perusahaan di Kota Malang dan Malang raya serta dari DPD PITI se Malang Raya. (hms/r4)