Tahun Depan Ekonomi Indonesia Lesu

Tidak ada komentar 118 views

Jakarta,(DOC)Ekonom DBS Group Gundy Cahyadi menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III terlihat kembali melemah ke 5,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedikit lebih rendah dibandingkan estimasi di 5,7 persen. Dengan melihat hal tersebut Gundy tetap memprediksi pertumbuhan ekonomi 2013 berada pada 5,8 persen YoY, walaupun kami terus melihat adanya kemungkinan angka perkiraan ini akan menurun.
Menurut Gundy, faktor utama penyebab melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah surutnya laju investasi di dalam negeri. Jika merujuk pada tingginya laju investasi pada 2012 lalu, perlambatan di tahun ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan walaupun lajunya memang terlihat lebih cepat dari yang sebelumnya diperkirakan.
Lalu, lanjut Gundy, adanya efek pendapatan negatif (negative income effect) karena pelemahan nilai tukar rupiah merupakan salah satu faktor utama penyebab melemahnya pertumbuhan investasi di Indonesia.
“Dengan kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) serta ketidakpastian di pasar finansial, kami memperkirakan bahwa pertumbuhan investasi masih akan melemah memasuki 2014,” kata Gundy, Sabtu (9/11/2013).
Gundy menuturkan satu-satunya faktor yang positif, dan terus membuat dirinya lebih optimis di pasar adalah masih kuatnya pertumbuhan konsumsi swasta di Indonesia. Pertumbuhan konsumsi swasta meningkat ke 5,5 persen YoY di kuartal III dari sebelumnya di tingkat 5,1 persen.
Gundy mengungkapkan kontribusi dari pertumbuhan konsumsi swasta terhadap petumbuhan PDB Indonesia juga terus berada di atas 50 persen ini merupakan kenyataan bahwa pertumbuhan konsumsi swasta masih merupakan pilar yang penting untuk perekonomian Indonesia.
“Sampai kapan ini akan terus berlanjut? Data-data terakhir menunjukan bahwa pertumbuhan konsumsi swasta masih akan terus positif di beberapa kuartal ke depan. Tingkat keyakinan konsumen terlihat telah membaik di Oktober, dan menunjukan kesan bahwa sentimen di kalangan konsumer juga bergantung terhadap sentimen di pasar finansial (yang telah cukup membaik di beberapa bulan terakhir),” tuturnya.
Sementara itu, tambah Gundy, konsumsi akan meningkat pada periode pra-pemilu. Selain itu, tuntutan kenaikan upah buruh yang dapat yang dapat mempengaruhi meningkatnya pendapatan mereka di 2014, juga menjadi faktor positif untuk terus menunjang tingginya pertumbuhan konsumsi swasta.
“Bagaimanapun, saat ini masih melihat adanya kemungkinan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik di2014. Proyeksi kami untuk tingkat pertumbuhan berada di 6 persen bukanlah merupakan suatu hal yang mustahil,” pungkasnya. (co/r7)