Abaikan Protes Warga, Penutupan Lokalisasi Klakah Rejo Jalan Terus

Surabaya,(DOC) – Pemkot Surabaya nampaknya tidak akan menghiraukan protes warga atas penutupan lokalisasi Klakah Rejo, Kecamatan Benowo yang dilakukan pada Minggu(25/8/2013) kemarin.
Usai rapat paripurna, Senin (26/8/2013), Walikota Surabaya Tri Rismaharini menegaskan tidak akan gentar menghadapi sejumlah warga yanag kontra terhadap penutupan lokalisasi Klakaha Rejo. “Saya akan terus melakukan apapun yang terjadi. Saya pastikan penutupan akan jalan terus,” tegas Walikota.
Ia menyebutkan, ada beberapa alasan yang membuatnya dirinya semangat melakukan penutupan tempat-tempat prostitusi di Surabaya, yaitu salah satunya adalah untuk menyelamatkan masa depan anak-anak Surabaya yang tinggal di sekitar lokalisasi. “Banyak anak anak yang telah menjadi korban. Saya tidak mau kejadian serupa kembali menimpa anak anak kita,” ucap Risma, sapaan akrab Walikota
Apalagi, berdasarkan informasi yang ia terima telah terjadi praktek ekonomi yang tidak adil untuk para pekerja seks komersial (PSK) di lokalisasi Klakah Rejo. “Saya tidak mau membicarakan masalah itu, karena masalah tersebut sifatnya rahasia,” tandas perempuan yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas kebersihan dan pertamanan (DKP) ini.
Sementara itu, Kepala dinas sosial (Dinsos) Kota Surabaya, Soepomo, memaklumi jika dalam penutupan yang dilakukan pada Minggu (25/8/2013) kemarin terdapat pandangan berbeda dan pertentangan dari sebagian kecil warga. Menurutnya, sebagai negara Demokrasi, permasalahan protes sudah menjadi hal yang biasa.
“Ini adalah alam demokrasi, jadi wajar jika ada warga yang memiliki pandangan berbeda,” kata Soepomo.
Soepomo menjelaskan, pada dasarnya semua warga Klakah Rejo, termasuk PSK dan mucikari-nya, sudah bersedia tutup. Tinggal menunggu kementerian sosial (kemensos) untuk menutup secara resmi sekaligus menyerahkan tali asih kepada para PSK.
“Saya pastikan, ratusan PSK serta 71 mucikari sudah sepakat lokalisasi tersebut ditutup. Tapi khusus dana tali asih bagi mucikari, alokasi anggaranya telah disediakan oleh Pemeritah Provinsi (Pemprop) Jatim, melalui Biro Kesra,” jelas Soepomo.
Pernyataan sama juga diungkapkan oleh Camat Benowo, Edy Purnomo, yang memastikan bila mayoritas warga Klakah Rejo telah sepakat dengan penutupan lokalisasi. Menurutnya, warga yang menolak saat dilakukannya penutupan bukan merupakan warga asli Klakah Rejo.
Apalagi, menurut Edy, sebelum penutupan dilakukan pihaknya telah melakukan sosialisasi selama dua minggu. Oleh karena itu, dirinya merasa kecolongan dengan kejadian tersebut. sebab hingga pukul 14.20 WIB, Minggu(25/8/2013) kondisinya tetap kondusif. Baru pada jam tiga atau bertepatan dengan banyaknya warga luar yang datang, kericuhan mulai terjadi.
“Saya pastikan, itu bukan dari lokalisasi Klakah tapi dari lokalisasi sebelah yaitu Sememi,” ungkap Edy Purnomo.
Di waktu terpisah, Baktiono, Ketua Komisi D Bidang Pendidikan dan Kesra DPRD Surabaya, meminta agar pemerintah kota mengantisipasi timbulnya tempat lokalisasi baru pasca dilakukanya penutupan tempat-tempat prostitusi di Surabaya, seperti di kawasan kos-kosan.
“Sebenarnya, kalau ditutup seperti ini justru akan sulit dipantau,” tegas Baktiono.
Baktiono menyatakan, melihat beberapa penutupan lokalisasi di Surabaya, dirinya melihat pemerintah kota sebenarnya belum siap melakukan penutupan. Hal itu, bisa dilihat dari pemberian tali asih yang hampir selalu diwarnai protes. Seperti pemberian tali asih di Tambak Asri, yang hingga kini masih belum jelas.
“Sebenarnya warga juga was-was ketika lokalisasi ditutup. Karena selama ini mereka menggantungkan hidupnya dari sana. Makanya, perlu ditegaskan kapan pemkot merealisaskan janji-janjinya untuk membuat kawasan eks lokalisasi menjadi lebih baik,” pungkas politisi asal PDIP itu.(K1/R7)