Tak Hadir, Diancam Jasmas Tak Cair

Tidak ada komentar 57 views

Surabaya, (DOC) – Ada upaya ‘pemaksaan’ di lingkungan DPRD Surabaya untuk membuat rapat paripurna tentang jawaban wali kota terkait perubahan anggaran keuangan (PAK) 2013 agar kuorum. Caranya, muncul SMS kepada seluruh anggota dewan agar hadir dan jika tak hadir, maka anggaran jaring aspirasi masyarakat (Jasmas) yang dilakukan anggota dewan, diancam tak cair.
SMS tersebut, dikirim ajudan Ketua DPRD Surabaya Mochammad Machmud bernama Hendro kepada anggota DPRD Surabaya. Isinya meminta seluruh anggota dewan agar hadir dalam rapat paripurna supaya jawaban wali kota bisa diterima alias kuorum.
Menanggapi isi SMS yang bersifat intervensi tersebut, beberapa anggota dewan angkat bicara.
Menurut Masduki Toha dari Fraksi PKB, apa yang dilakukan Machmud itu tak ubahnya dengan pimpinan dewan yang lama, Wishnu Wardhana. “Untuk menghadirkan anggota dewan tak perlu dengan cara intervensi seperti itu,” tandas Masduki Toha. Sementara Armudji dari Fraksi PDI Perjuangan menegaskan, apa yang dilakukan dengan SMS itu sudah bukan pembelajaran politik. Hal itu justru lebih menunjukkan otoriternya seorang pimpinan dewan.
“Anggota dewan sadar akan tugas dan kewajibannya, apalagi untuk paripurna, pasti akan hadir. Tapi kenapa harus ada ancaman melalui SMS seperti itu,” tegas Armudji.
Justru dengan adanya SMS anjuran hadir agar paripurna kuorum itu jadi tanda tanya? Sebab dalam PAK itu ada penambahan anggaran sebesar Rp9 miliar untuk tipping fee TPA Benowo. Dari nilai Rp52 miliar, kini menjadi Rp61 miliar. Tujuannya, anggota dewan seluruhnya harus menyetujui penambahan itu, jika tidak justru legislatif akan dibalas dengan tidak cairnya Jasmas yang mereka lakukan untuk masyarakat pemilihnya.
Namun hal itu dibenarkan Ratih Retnowati, anggota DPRD asal Fraksi Demokrat. Menurut dia, masalah kehadiran itu sudah dibahas di tingkat Banmus dan Banggar. Pasalnya, memang banyak anggota dewan yang tak hadir pada beberapa rapatnya. Jadi tak ada salahnya jika dalam paripurna, anggota harus hadir. “Saya bukannya membela Machmud, tapi itu sudah dibahas di Banmus dan Banggar,” ujar Ratih.
Sementara Mochammad Machmud membantah jika dia telah mengancam anggota dewan. Menurut dia, ajudannya yang salah paham untuk mengirimkan SMS ke anggota dewan tersebut. (co/r4)