Tanggapi Aspirasi Warga Terdampak, Dewan Kunjungi Lokasi Proyek Cable Car

foto ; Ketua DPRD dan sejumlah anggota Komisi A sidak ke lokasi Kereta gantung

Surabaya,(DOC) – Komisi A DPRD kota Surabaya melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan proyek kereta gantung (cable car) disekitar pesisir pantai Kenjeran Surabaya, Selasa(7/8/2018) pagi.

Rencana pembangunan cable car oleh Pemkot Surabaya bersama pihak investor swasta tersebut, menuai protes warga.

“Dampak proyek cable car yang sebenarnya bagus sekali tapi tidak disosialisasikan dengan baik oleh Pemkot,” kata Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Herlina Harsono Njoto saat sidak di lokasi pemasangan tiang pancang di Tambak Wedi.

Menurut Herlina, warga yang kebanyakan para nelayan ini, telah melayangkan protes ke Komisi A soal dampak pembangunan.

“Warga protes, karena ada dua posko nelayan dirobohkan oleh Satpol PP sebagai dampak pembangunan cable car,” ujarnya.

Selain dampak ke warga, dirinya juga khawatir, proses pembangunan cable car itu, juga merusak ekosistem pantai dan berdampak pada hasil tangkapan ikan para nelayan.

“Dampak ekosistem harus difikirkan, karena disini akan dibangun tiang pancang yang harus digambarkan secara pasti, apakah ini akan menggangu mata pencarian para nelayan. Sebenarnya pembangunan dan ekosistem itu harus berjalan beriringan. Pembangunan akan nampak indah kalau ada unsur alami yang dipertahankan,” tambah Herlina.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ketua DPRD kota Surabaya, Armudji yang juga turut meninjau ke lokasi.

Pada kesempatan itu, Ia mengkritik pihak investor yang hanya membangun disisi Tambak Wedi saja sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) sepanjang 725 meter. Sedangkan sisanya dibangun oleh Pemkot Surabaya.

“Sementara CSR cable car hanya disini (Tambak Wedi,red) sedangkan yang bangun taman, Pemkot. Harusnya yang bangun semua swasta karena lahannya punya kita (Pemkot,red). Itu jadi kejanggalan kenapa cuma sekian meter, selebihnya Pemkot,” kata Armudji saat sidak di lokasi pemasangan tiang pancang di Tambak Wedi, Selasa (7/8/2018).

Menanggapi kritik dewan tersebut, Direktur Utama PT. PP Properti Suramadu, Rudy Harsono yang mengikuti kunjungan ke lokasi, mengaku, siap membangun kembali posko nelayan yang biasa digunakan untuk menaruh berbagai alat menangkap ikan.

“Kami akan bangun kembali posko setelah ada kesepakatan bersama antara warga, anggota dewan serta perwakilan Pemkot,” ujarnya.

Sedangkan, General Manager PT PP Properti Suramadu, Satrio Sujatmiko, menambahkan, pihak investor telah menyiapkan lahan 6,5 hektar untuk pembangunan shelter penumpang cable car.

“Kita bangun itu berupa 8 tiang penyanggah untuk panjang 725 meter, yang dibangun kami,” kata Satrio.

Menurut Satrio, pembangunan awal cable car memang didasari kajian dari pihak pengembang.

“Pembangunan awal itu dari kajian kita. Jadi ada kajian disini bagus buat wisata bahari, di Surabaya belum ada kalau di Jakarta ada Ancol,” tambahnya.

Selain shelter cable car, PT PP Properti Suramadu akan mengembangkan kawasan pesisir Kenjeran. Laham seluas 6,5 hektar juga akan dibangun apartement, mall, dan perkantoran. Bahkan, pihak PT PP Properti Suramadu sudah memesan 20 unit kereta gantung dari Cina yang berkapasitas untuk 6 orang.

“Nantinya, konsep kereta gantung dari Tambak Wedi akan melintas diatas Jembatan Suramadu,” pungkasnya.(av/r7)