Tekan Pelanggaran, Awak Bus Harus Patuhi Aturan Operasional

Surabaya(DOC)-Kepala UPTD Terminal Bungurasih berharap kepada pengelola atau pemilik otobus (PO) agar melakukan sosialisasi pentingnya mematuhi semua aturan operasinal angkutan bagi awak bus. Ini dilakukan untuk menekan agar tak terjadi lagi pelanggaran.

Kepala UPTD Terminal Purabaya, May Ronald mengatakan, dengan adanya kerjasama antara pihak pengelola bus dapat mengurangi angka kecelakaan pada awak bus. “Kalau kami terus melakukan razia tetapi dari pihak pengelola armada angkutan tidak punya inisiatif baik untuk ikut membantu pelaksanaan sosialisasi, maka sia-sia upaya kami,” ujarnya.

Menurut dia, pengelola bus perlu memahami pentingnya melengkapi berbagai kelengkapan surat untuk awak bus maupun kelengkapan surat-surat atau dokumen untuk kendaraan.

Kelengkapan surat-surat kendaraan, biasanya memang langsung diurusi oleh pihak manajemen masing-masing armada angkutan. Tetapi kepada masing-masing awak bus yang membawa kendaraan perlu juga dipahamkan pentingnya kelengkapan dokumen dan kelengkapan kendaraan.
“Keterlibatan para pengelola armada angkutan wajib dilakukan oleh masing-masing, agar awak bus memiliki pemahaman lengkap sehubungan dengan surat-surat serta dokumen kendaraan,” ujarnya.

Untuk itu ke depan pihak UPTD Terminal Purbaya juga menjadwalkan melakukan pertemuan dengan para pengelola armada angkutan untuk memberikan masukan atau mensosialisasikan berbagai hal, sehubungan dengan ketertiban dan ketentuan operasionalisasi angkutan umum.

Mengenai pelanggaran yang terjadi saat ini, ia mengatakan untuk jumlah pelanggaran dari waktu ke waktu terus menurun, tetapi pelanggaran yang dilakukan awak bus masih tergolong sangat riskan sehubungan dengan jaminan kenyamanan serta keamanan membawa penumpang.

Sejumlah dokumen penting yang seharusnya dimiliki dan dipegang oleh sopir misalnya, seringkali tidak lengkap dan kurang. Surat Izin Mengemudi (SIM) atau surat izin trayek yang belum diperpanjang jadi kendala tersendiri.

“Kadang para sopir beranggapan bahwa SIM itu cukup dimiliki pada saat selesai pengurusan SIM. Setelah mengemudikan bus, SIM tidak lagi dianggap penting. Padahal tidak boleh begitu,” ujarnya. (R-12)