Terjebak Isu Politik, Perguruan Tinggi Salah Langkah

Surabaya, (DOC) – Pakar politik Surabaya menilai langkah dua Perguruan Tinggi negeri(PTN) di Surabaya, ITS dan Unair, yang terlibat dukung-mendukung dalam polemik Wali kota Surabaya Tri Rismaharini sebagai upaya yang salah kaprah dan dangkal.
Dari fenomena ini dosen Fisip Unair Hariadi, Rabu (26/2/2014), menilai keterlibatan sejumlah PTN dalam upaya dukung-mendukung Wali Kota Surabaya merupakan reaksi artifisial yang lucu. Langkah tersebut sangat disayangkan. Sebab, PTN justru larut dalam persoalan semu yang disajikan oleh media, bukan fakta dibalik isu yang muncul. Terlebih bagi Unair yang memiliki departemen politik.
Kritik Hariadi ini terkait dengan munculnya surat dukungan dari rektor Universitas Airlangga(Unair) kepada sejumlah awak media. Di dalam surat tersebut tertera ungkapan“Pimpinan dan Civitas Akademika Universitas Airlangga mendukung Ibu Tri Rismaharini untuk tetap melanjutkan kepemimpinan dan pembangunan di Kota Surabaya”.
Sebagai alasannya, Risma dinilai telah berhasil memimpin Surabaya hingga ditetapkan sebagai wali kota terbaik dunia versi citymayors.com.
“Kampus sudah terjebak dalam wilayah dukung-mendukung yang jika dilihat dari sisi isu itu sudah ketinggalan. Kasian sekali kalau kampus saya kalau seperti ini,” ungkap Hariadi saat dikonfirmasi, kemarin.
Menurut dia, langkah Unair dalam mengirimkan surat terbuka yang ditandatangani langsung oleh Rektor Unair justru jauh dari semangat excellent with morality. “Kalau kampus itu benar-benar ladangnya kaum intelektual, mestinya kan memberi masukan atau penilaian kinerja. Bukan dukung-mendukung,” ungkap dia. Hariadi menyayangkan langkah pimpinan Unair yang tidak membicarakan hal ini sebelumnya dengan departemen politik. “Iya kalau Unair itu tidak punya departemen politik lumrah. Mestinya kan diskusi dulu dengan departemen yang membidanginya,” ungkap dia.
Selain Unair, sebelumnya Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar aksi solidaritas untuk Risma pada akhir pekan lalu. Bahkan sejumlah pakar yang dipimpin Daniel M Rosyid, salah satu guru besar ITS sudah mendatangi Wali kota Risma di balai kota.
Sementara, Dosen Fisip Universita Wijaya Kusuma (UWK) Andri Arianto menyebut langkah PTN yang memahami wacana politik secara dangkal. Menurut dia, PTN memiliki peran yang lebih bermanfaat bagi Kota Surabaya dari pada dukung-mendukung jabatan politis. “Itu ungkapan man on the street yang tidak mendasar,” tutur dia.
Menurut Andri, dukungan untuk Risma yang didasarkan pada sebagai Wali Kota terbaik sangat jauh dari konteks ilmiah. Jika ingin memberi dukungan, kata Andri, PTN sejatinya bisa melakukannya dengan menggunakan riset kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Risma. Atau melihat secara dalam capaian Wali Kota terhadap kerjanya mengacu rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang daerah.
“Kalau hanya karena Risma dinobatkan sebagai wali kota terbaik siapapun bisa mengatakan itu. Tapi akan lebih baik jika PTN itu mengatakannya berbasis riset agar lebih objektif,” tutur pria yang juga alumni Unair itu.
Sementara itu, Humas Unair Bagus Kastolani mengatakan, terlepas dari konstelasi politik yang ada, Unair sejatinya hanya ingin memberi apresiasi terhadap prestasi yang diraih oleh Wali Kota Surabaya. Menurut dia, pembangunan yang dilakukan oleh Risma selaras dengan semangat Excellent with Morality yang dipegang Unair sebagai moto.
“Menurut Unair, Bu Risma memiliki prestasi yang baik dan sudah sepatutnya untuk memimpin Surabaya hingga akhir masa jabatannya. Terlepas dia akan maju kembali untuk periode berikutnya, itu hak politik beliau,” pungkasnya. (bh/r4)