Terkait Survei SMRC, PDIP dan Golkar Tak Ambil Pusing

Jakarta, (DOC) – Naik turunnya elektabilitas partai-partai politik di Indonesia saat ini dinilai oleh Politikus Partai Golkar DR. Aziz Syamsuddin sebagai sesuatu yang wajar. “Inilah yang namanya dinamika politik. Dan hal ini lebih dikarenakan kerja di lapangan yang terus menerus dengan cara mendekatkan diri dan menampung aspirasi masyarakat. Dan itu bukan kerja satu bulan atau dua bulan. Ini adalah hasil kerja yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu,” ujar Aziz Syamsuddin ketika diwawancarai melalui telepon.
“Jangan surveinya dulu yang pikirkan, tetapi sebaiknya imbau agar Panwaslu, Bawaslu, pihak Polri, dan seluruh elemen terkait mengawasi dengan baik. Itu dulu. Jangan sampai survei itu nanti menjadi ajang pembenaran money politic,” tegas jebolan University of Western Sydney, Australia.
Secara terpisah, politikus PDI-P, Effendi M. S. Simbolon berkomentar, “Saya kira sah-sah saja dan kita persilahkan saja kalau ada yang mencoba untuk memetakan elektabiltas partai-partai politik di Indonesia. Sebenarnya saya tidak ingin berkomentar dan tidak terllau ambil pusing dengan metode-metode yang diterapkan oleh para suveyor tersebut. Mereka punya cara sendiri untuk merepresentasikan apa yang mereka survei,” ujar Effendi.
Lebih jauh Anggota Komisi VII DPR-RI ini mengatakan, elektabilitas partai naik dan turun adalah hasil kerja para surveyor yang sebenarnya perlu dipantau oleh sebuah lembaga yang bisa dibentuk. Akan tetapi, katanya, tentang elektabilias yang naik turun tersebut hanyalah sekedar corak dan dinamika demokrasi. “Sepanjang semuanya masih berada di koridor dan aturan main yang benar, silahkan saja. Tapi saya sendiri tidak mau ambil pusing dan merasa tidak berkepentingan berkomentar,” tegas Effendi Simbolon.
Pakar komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, perolehan survei PDI-P dan Golkar adalah sesuatu yang mengejutkan, “Walaupun sudah diprediksi akan turun namun tetap saja mengejutkan. Yang tidak mengejutkan justru perolehan partai Demokrat. Kenaikan perlahan dan stabil menempatkan partai ini dalam posisi ketiga. Tren Demokrat di setiap ajang Pemilu memang begini, naik di saat akhir.”
Dilanjutkannya, “Partai Demokrat masuk tiga besar karena kerja politik kadernya. Bayangkan jika SBY juga sudah turun ke lapangan. Peta kekuatan politik kemungkinan besar akan terbalik.”
Hendri Satrio menjawab diplomatis saat ditanya kemungkinan Partai Demokrat tetap nomor satu jika SBY turun gunung, “politik itu dinamis. Yang pasti kejutan-kejutan politik pasti akan terjadi dalam waktu dekat ini,” tutupnya. (r4)