Terminal Multipurpose Teluk Lamong Untungkan Perusahaan Peti Kemas

Surabaya,(DOC) – Setiap masyarakat yang pernah menggunakan jasa pengirimin barang lewat laut, pasti pernah merasa jengkel dengan lambatnya waktu pelayanan.
Untuk mengirim barang ke suatu daerah, dibutuhkan waktu sedikitnya 3 hari, bahkan bisa sampai 2 minggu.

Lambatnya jasa pengiriman barang melalui jalur laut ini, juga terjadi di Surabaya. Salah satu pemicunya adalah bongkar muat barang di dermaga pelabuhan termasuk di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Bongkar muat peti kemas tidak bisa dilakukan sewaktu waktu, melainkan harus antri berhari – hari , karena traffic kapal sandar begitu padat.

PT. Fajar Perkasa salah satu perusahaan ekspedisi yang berdomisil di Surabaya, mengaku sering mengirim barang ke Indonesia Timur melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
Selama bertahun – tahun operator ekpedisi peti kemas ini berdiri, komplain pelanggan terkait lambatnya waktu pengiriman yang tidak sesuai schedule juga sering diterima.

“Ya di komplain, kalo ternyata kiriman telat, tapi biasanya sekarang kita siasati dengan jarak waktu pengiriman yang kita bikin agak lama,” jelas Maya, staff perusahaan operator ekspedisi PT Fajar Perkasa, Kamis(14/11/2013).

Telatnya pengiriman barang, menurut Maya, memang sering disebabkan oleh bongkar muat barang di dermaga tanjung perak. Kapal kontainer yang akan sandar di dermaga domestik Pelabuhan Tajung Perak, jika traffic padat dan jadwal kapal overload, tambah Maya, armadanya harus menunggu selama berhari – hari.

“Kalo Padat, Kapal menunggu ditengah sampai 2 hari untuk bisa menepi. Selain komplain, kita juga rugi karena pengiriman tersendat dan cost operasional kapal membengkak,” terangnya.

Keluhan para customer dan operator ekspedisi ini memang tidak terlalu berlebihan, karena memang di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, kini mempunyai jalur rute terbanyak di banding Pelabuhan Tanjung Periok Jakarta sekalipun. Sejak 3 tahun terakhir, Pelabuhan Tanjung Perak yang kini mempunyai sekitar 9 dermaga bongkar muat kapal, jalur international dan domestik, melayani 32 rute, dengan traffic rute terpadat yaitu domestik tujuan Indonesia Timur.

PT Pelindo III (Persero) selaku pengelola Pelabuhan International Tanjung Perak Surabaya, tidak mengelak atas pelayanan pelabuhan yang kurang maksimal.

Untuk mengatasinya, kini Pihak Pelindo III tengah menyiapkan sistem layanan berbasis Windows System on Schedule (system windows pada jadwal) yang akan diterapkan di Terminal Multipurpose Teluk Lamong, sebagai solusi mengurangi beban padatnya traffic bongkar muat barang didermaga pelabuhan Tanjung Perak. Rencananya Terminal Multipurpose Teluk Lamong, akan di operasionalkan pada Mei 2014 mendatang.

Penerapan Window System on Schedule ini, sangat diharapkan untuk mampu memberikan percepatan layanan kapal dan peningkatan produktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan.

Kepala Humas PT Pelindo III (Persero), Edi Priyanto, menyatakan, Windows System on Schedule merupakan solusi, sekaligus komitmen dalam memberikan kepastian sandar kepada pengguna jasa (pelayaran peti kemas domestik) sesuai jadwal kedatangan kapal.
“Semua pihak terutama masyarakat pengguna jasa peti kemas, diharapkan tidak dirugikan lagi, dengan meningkatnya kunjungan kapal sesuai target Turn Round Voyage (TRV) sekitar lima hari,” ujar Edi saat dihubungi, Kamis(14/11/2013).

Dengan terbangunnya windows system on schedule, dan pengoperasian Terminal Multipurpose Teluk Lamong yang mempunyai dermaga seluas 9 ribu meter lebih serta bisa menampung 5 kapal sekaligus untuk aktivitas bongkar muat, maka rute baru dimungkinkan juga bisa di tambah, guna meningkatkan pelayanan kepada para penggunan jasa peti kemas.

Menurut Edi, Windows System on Schedule dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ke pelabuhan lain di wilayah kerja Pelindo III bisa menambah rute baru. Bahkan rute pelabuhan di luar wilayah Pelindo III pun bisa dijangkau seperti, Medan, Samarinda, Balikpapan, Bitung dan Papua.
Namun Edi menegaskan, bahwa fokus utama pengoperasian Terminal Multipurpose Teluk Lamong ini, adalah mengurai kepadatan yang saat ini terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.
“Penerapan Window System on Schedule sekaligus mampu memberikan percepatan layanan kapal dan peningkatan produktivitas bongkar muat peti kemas di pelabuhan,” katanya.

Pelayanan berbasis Windows System on Schedule ini ternyata bukan hanya disiapkan di Terminal Multipurpose Teluk Lamong saja. PT Pelindo III (Persero) ternyata telah mengembangkan sejak lama di beberapa pelabuhan.
Beberapa rute Windows System On Schedule yang sudah tergarap yaitu pelayaran petikemas domestik di antaranya rute Pelabuhan Banjarmasin (Kalsel) – Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Pelabuhan Sampit (Kalteng).
Bahkan bukan hanya itu, sistem tersebut juga direalisasikan di Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Pelabuhan Bumiharjo (Kumai-Kalteng), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Pelabuhan Batulicin (Tanah Bumbu-Kalsel), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Pelabuhan Lembar (Mataram), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Pelabuhan Benoa (Bali), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya) – Pelabuhan Tenau (Kupang-NTT), Pelabuhan Tanjung Perak (Surabaya)-Pelabuhan Makasar.

Efektifitas Windows System on Schedule ini, memang sangat menguntungkan bagi operator pelayaran untuk memberi kepastian kepada para pengguna jasa peti kemas.

Kepala Humas PT Pelindo III (Persero), Edi Priyanto, kembali menyatakan, dengan penerapan sistem ini, kepastian pelayanan jasa kepelabuhanan melalui penjadwalan kedatangan atau keberangkatan kapal bisa di ketahui secara tepat.
“Semua dapat direncanakan sejak awal jadwalnya, sehingga biaya tetap bisa berkurang, karena beban kapal yang naik akibat menunggu sudah terkurangi dengan sendirinya. Kegiatan operasional di pelabuhan bisa dilakukan terencana, lancar dan tertib,” jelasnya.

Dalam waktu dekat ini, PT Pelindo III berniat mendata perusahaan pelayaran petikemas domestik setiap bulan, guna menginventaris sistem jadwal kedatangan dan jadwal sandar kapal periode bulan berikutnya. “Kami mohon partisipasi para perusahaan pelayaran untuk mendaftarkan kapal dan target muatan, agar persiapan peralatan dan jadwal sandar bisa diatur guna mengoptimalkan fasilitas yang tersedia,” imbuh Edi.(r7)