Teror Politik Aceh Karena Persaingan

Tidak ada komentar 163 views

Jakarta, (DOC) – Lagi-lagi teror politik kembali terjadi di Nangroe Aceh Darussalam. Kali ini kantor Partai Aceh Dewan Pimpinan Sagoe (DPS) Lueng Bata Banda Aceh, digranat orang tidak di kenal kemarin (11/3/2014). Semakin mendekati pelaksanaan pemilu, teror politik di Aceh semakin sering terjadi.
Mantan Pangdam Iskandar Muda Aceh, Supiadin Aries Saputra mengatakan, kekerasan pemilu di Aceh terjadi karena adanya persaingan politik antara partai lokal. “Partai lokal di Aceh tidak siap mental bersaing dengan partai lain dan takut kalah, makanya mereka melakukan aksi teror,” ungkapnya.
Mantan Pangdam IX Udayana Denpasar ini menambahkan persaingan politik di Aceh sudah dimulai sejak Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada tahun 2006. Saat itu mulai terbentuknya sejumlah partai lokal di Aceh dampak dari penjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Indonesia di Helsinki, Finlandia yang ditanda tangani 15 Agustus 2005.
“Sejak itulah terjadi persaingan anatar partai lokal yang bermunculan. Persaingan di kalangan elit politik Aceh menyangkut harga diri kelompok dan sulit dihentikan, selama pihak-pihak yang bertikai tidak mau menghentikannya,” papar Supiadin.
Calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Aceh I, Desi Fitriani mengatakan konflik di Aceh bukan sesuatu yang baru. Masyarakat Aceh sudah sangat terbiasa dengan aksi-aksi teror. Sementara itu, konflik menjelang pemilu yang terjadi di Aceh karena kesadaran berpolitik yang masih kurang.
“Konflik terjadi karena kesadaran berpolitik, kehidupan berdemokrasi masih kurang dan harus diperbaiki. Partai politik baik lokal atau pun nasional harus saling menghormati partai lain, berjiwa besar dalam berpolitik, kesadaran tinggi menerima kekalahan dan bukan sebagai ancaman,” imbuh mantan jurnalis spesialis daerah konflik ini.
Semantara itu pengamat politik Boni Hargens mengatakan, kekerasan di Aceh merupakan konsekuensi persaingan antar partai lokal dengan partai nasional. “Partai lokal merasa resah terhadap partai nasional seperti NasDem yang berkembang sangat baik disana. Mereka tidak menginginkan Surya Paloh menang di tanah kelahirannya,” ujarnya.
Boni menambahkan pemerintah dan kepolisian harus turun tangan dalam menangani konflik ini. Karena di Aceh diperlukan sekali keseriusan pemerintah dan aparat keamanan dalam menyelesaikan masalah teror-teror ini.
“Teror politik sering terjadi di Aceh karena hanya disana yang memiliki partai lokal, sementara di daerah lain kalaupun terjadi pengrusakan bukan termasuk katagori teror karena kejadiannya hanya sesekali. Sementara kalau di Aceh ini berulang kali dan targetnya sangat jelas siapa dan apa,” jelas Boni.
Beberapa aksi pengrusakan yang pernah tgerjadi di luar Aceh antara lain di Blitar, Jawa Timur, bendera Partai Golkar dibakar oleh orang tak dikenal. Sedangkan di Yogyakarta, posko PDIP dirusak dan membakar atribut kampanye. (r4)