Tes Kesehatan Panlih Diprotes

Tidak ada komentar 176 views

Surabaya, (DOC) – Rencana panitia pemilihan (panlih) Wakil Walikota (wawali) menggelar general checkup mulai mendapat hambatan. Hal itu setelah adanya protes yang disampaikan salah satu cawawali, Syaifudin Zuhri. Syaifudin beralasan, tes kesehatan setara dengan keperluan tes kepala daerah sudah dilakukan.
“Masak harus tes kesehatan lagi, padahal saya baru saja tes kesehatan di RS Dr Soetomo. Tapi Panlih meminta harus tes lagi pada Kamis mendatang bersama-sama di RS Soewandhi,” keluh Syaifuddin Zuhri, Senin (7/10/2013).
Syaifudin mengaku heran, dengan permintaan panlih yang mewajibkan kembali para calon harus tes kesehatan. Padahal kelengkapan berkas persyaratan pernyataan sehat itu sudah diserahkan ke Panitia pemilihan.
“Maksudnya apa kok harus tes kesehatan lagi, masak dada saya harus di rontgen dua kali. Kuatirnya nanti malah membahayakan kesehatan,” imbuhnya.
Sebagai bukti penolakanya, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan DPRD Surabaya, juga menyampaikan keberatan itu secara langsung kepada Ketua DPRD Surabaya Mochamad Machmud.
“Tadi, pas ketemu pak Ketua saya langsung menanyakan maksud undangan Panlih yang meminta tes kesehatan ulang,” tandas Anggota Komisi C ini.
Sementara itu Ketua DPRD Surabaya Moch Machmud membenarkan jika ada undangan kepada para calon wawali agar mengikuti tes kesehatan. Dirinya belum tahu persis alasan panlih, mengapa para calon itu harus melakukan tes kesehatan lagi meski sudah ada surat keterangan sehat dari instansi terkait.
“Saya meneruskan permintaan dari Panlih untuk mengundang calon agar tes kesehatan. Tapi nanti coba akan kita undang semua panlih dan cawawali agar duduk bersama,” kata Moch Machmud.
Menurut Machmud, permintaan panitia pemilihan yang meminta dua calon Wakil Walikota menggelar tes kesehatan ulang sebenarnya tidak perlu dipersoalkan. Sebab intruksi yang diberikan panlih semuanya berdasarkan rekomendasi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).
“Harusnya para calon tidak perlu protes. Dulu yang meminta KPU dilibatkan dalam proses pemberkasan yang dilakukan panlih kan mereka (calon Walikota, red) sendiri. Masak sekarang kok malah ditolak,” ingat Machmud.
Sebelumnya Pansus Wawali yang mengundang KPU Surabaya dan tim ahli mendapatkan masukan, jika prosedur persyaratan calon wawali sama dengan persyaratan seperti para calon kepala daerah saat pemilihan kepala daerah. Salah satunya persyaratan tes kesehatan harus dilakukan di rumah sakit rujukan yang sudah bekerjasama dengan KPU maupun DPRD Surabaya.
Dua calon wakil wali kota (Wawali) Surabaya bakal diminta untuk tes kesehatan ulang di RS Soewandhi, Surabaya. Tes kesehatan itu wajib diikuti cawawali meski selama ini mereka sudah menyertakan surat keterangan sehat.
Terpisah, Sekretaris panlih, Sudirjo menyatakan tidak ada alasan bagi para caloan wakil walikota untuk menolak general checkup yang diminta panitia pemilihan. Mestinya, jika kedua calon serius tidak ada alasan menolak. “Kan Cuma tes saja. Kenapa mesti menolak,” ujar Sudirjo.
Sudirjo menjelaskan, pemrintaan panlih menggelar cek kesehatan ulang setelah mendengar keterangan dari KPU. Dimana dianjurkan agar rumah sakit yang dituju mendapat rekomendasi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
“Yang sudah diserahkan kedua calon adalah surat keterangan jasmani dan rohani. Padahal yang diminta sesuai dengan Tatib, harus tes secara menyeluruh,” jelasnya.
Sementara ketika ditanya apakah penolakan tes kesehatan yang dilakukan panitia pemilihan dapat menggugurkan Cawawali yang menolak, politisi yang dikenal vokal ini enggan bersepekulasi. “Saya tidak mau berandai-andai dulu mas. Tesnya kan belum digelar, lihat saja nanti,” pungkasnya.(k1/r4)