Trem Jalan Terus, Optimis Terbangun

Tidak ada komentar 187 views

Surabaya, (DOC) – Meski DPRD Kota Surabaya menilai proyek trem Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya belum mengantongi studi kelayakan, namun Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini tetap optimistis proyek yang diperkirakan menelan investasi Rp2,2 triliun dalam waktu dekat segera terealisasi. Bahkan, proyek yang bekerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu akan dikerjakan bulan depan.
Risma, panggilan Tri Rismaharini enggan berpolemik tentang penolakan Kementrian Perhubungan (Kemenhub) atas proyek trem ini lantaran belum ada studi kelayakan. Risma memastikan bahwa, semua persyaratan dalam proyek ini sudah dipenuhi semua, termasuk studi kelayakan. Dia mengaku heran apa yang menjadi alasan dari Kemenhub sehingga proyek trem ditolak. “Saya tidak tahu kondisi disana (Kemenhub) itu bagaimana. Kami sudah punya semuanya, studi kelayakan juga ada. Tapi nanti teman-teman lihat saja, bulan depan proyek ini sudah jalan,” katanya.
Sementara itu, anggota DPRD Kota Surabaya, Reni Astutik menyoroti proyek trem ini karena belum memiliki landasan hukum. Politikus dari PKS ini mengatakan, proyek trem ini belum ada Memorandum of Understanding (MoU). Dia menilai, jika memang PT KAI sanggup membiayai proyek tersebut, seharusnya ada landasan husttkum berupa MoU dan itu diketahui oleh DPRD Surabaya. “Pembangunan angkutan transportasi massal itu bukan hanya soal pembangunan, tapi bagaimana mengatur biaya operasional dan subsidi bagi penumpang agar tarifnya terjangkau,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pembinaan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Ellen Tangkudung menilai, Surabaya membutuhkan AMC untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Tidak hanya untuk saat ini, tapi juga dimasa mendatang. Sebab, pada prinsipinya, AMC bertujuan mengalihkan moda transportasi dari kendaraan pribadi ke angkutan masal. Surabaya, kata dia, merupakan salah satu kota yang terus bertumbuh. Tidak hanya di pusat kota, di pinggiran kota seperti di Surabaya barat dan timur juga mulai berkembang. “Tapi, yang perlu dipikirkan dari proyek ini adalah, bagaimana menertibkan pengguna jalan. Mindset pengguna jalan harus diubah,” terangnya.
Menurut Ellen, seringkali pengguna jalan, khususnya sepeda motor tidak mau mengalah dengan angkutan umum. Padahal, angkutan umum itu harus didahulukan ketika hendak lewat. Begitu pula soal trem. Pengguna jalan harus memahami bahwa, ketika ada trem yang lewat harus didahulukan. Pengguna jalan tidak boleh asal menyeberang begitu saja. Jalur trem tidak secara khusus untuk trem, sehingga pengguna jalan juga bisa menggunakan jalan itu. Tapi, jalan itu bisa digunakan saat trem sedang tidak lewat. “Kalau dipilih moda mana yang paling tepat, apakah trem atau monorail, keduanya sama-sama tepat. Trem itu bisa direalisasikan ketika pengguna jalan mau tertib,” paparnya.
Senada dengan Ellen, Ketua Pusat Studi Transportasi dan Logistik Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Hera Widyastuti mengatakan, proyek trem menjadi solusi yang tepat untuk mengurai kemacetan. Dengan angkutan ini, akan mendorong warga tidak menggunakan kendaraan bermotor. Sebagai kota berpenduduk 3 juta jiwa, lanjut Hera, Surabaya memang sudah saatnya trem. “Kalau warga mau terkena macet di jalan, silahkan naik kendaraan pribadi. Tapi jika mau lancar, maka harus naik angkutan massal. Pemerintah kan memberi pilihan masyarakat dan memilih angkutan massal itu hak warga,” ujarnya. (ist/r4)