TTL naik, Produk Lokal Lemah

Tidak ada komentar 152 views

JAKARTA – DOC, Kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) sebesar 15 persen pada tahun depan dianggap bisa melemahkan sektor produktif dan hanya memanjakan sektor konsumtif. Sejumlah asosiasi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Asosiasi Nasional (Forkan), mengkuatirkan pangsa pasar produk lokal akan semakin tergerus dengan kebijakan tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Pemilik Merek Lokal Indonesia (AMIN) – Putri K Wardani mengatakan, dengan naiknya TTL, maka secara otomatis pengusaha akan menaikkan harga produknya, biar tidak rugi.
Tetapi efeknya, kenaikan harga produk tersebut, dapat membuat pangsa pasar produk lokal akan semakin tergerus dengan produk impor yang lebih murah.
Kenaikan TTL ini, sangat menekan daya saing industri nasional.
“Kami harap, keputusan pemerintah ini bukan keputusan politis,” kata Putri, di Jakarta, Kamis (25/10/2012).

Lebih lanjut Putri K Wardani menambahkan , untuk menghemat anggaran subsidi, sebaiknya pemerintah tidak terburu menaikkan TTL, karena waktunya kurang tepat.
Menurutnya, Saat ini pelanggan PLN yang merupakan golongan industri hanya sekitar 0,08 persen atau 41.900 pelanggan, kemudian disusul golongan bisnis sebanyak 332 ribu pelanggan atau 0,64 persen, golongan pemerintah 0,55 persen atau 228 ribu pelanggan, serta 11,6 juta atau 22,50 persen pelanggan golongan lainnya.

Sedangkan untuk golongan pelanggan rumah tangga (RT) dengan daya 450 VA adalah 22,1 juta pelanggan dan daya 900 VA oleh 17 juta pelanggan. Total pelanggan 450-900 VA mencapai 39,1 juta pelanggan atau sekira 76,23 persen dari keseluruhan.

Dengan demikian, kenaikan TTL untuk pelanggan RT berdaya 450-900 VA hanya menambah beban sebesar Rp4.000-Rp5.000 per bulan. Sehingga pihaknya berharap, para pelanggan RT bisa menekan pengeluarannya dengan mengkonsumsi listrik secara bijak dan efisien.

“Ujungnya adalah efisiensi dan sangat mungkin terjadinya PHK. Efek lainnya adalah mempertimbangkan merelokasi pabrik ke lokasi yang lebih mudah dan murah untuk berproduksi. Pemerintah harus berpikir jernih dan jauh ke depan,” tegasnya(R-7)