UNICEF Kampanyekan ‘Super Dads’, Serukan Cuti Kelahiran Berbayar Untuk Ayah

 

agar anak pintar

foto : (ilustrasi) Ayah dan Anak

New York,(DOC) Hampir dua pertiga anak-anak di dunia atau sekitar 90 juta jiwa, berusia kurang dari 1 tahun. Mereka hidup di sejumlah Negara, di mana ayah mereka tidak berhak oleh hukum untuk satu hari cuti paternitas berbayar berdasarkan analisis UNICEF terbaru.

Data UNICEF melansir bahwa 92(sembilan puluh dua) negara tidak memiliki kebijakan nasional yang memastikan para ayah baru mendapatkan waktu luang yang cukup dengan bayi mereka yang baru lahir, termasuk India dan Nigeria yang semuanya memiliki populasi bayi yang tinggi.

Sebagai perbandingan, negara-negara lain dengan populasi bayi yang tinggi, termasuk Brasil dan Republik Demokratik Kongo, semuanya memiliki kebijakan cuti paternitas berbayar nasional, meski hanya menawarkan hak yang relatif hanya bersifat jangka pendek.

“Interaksi yang positif dan bermakna dengan ibu dan ayah sejak awal membantu membentuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak-anak seumur hidup, membuat mereka lebih sehat dan bahagia, dan meningkatkan kemampuan mereka untuk belajar. Itu semua adalah tanggung jawab kami untuk memungkinkan mereka mengisi peran ini,” kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta H. Fore, dalam release tertulisnya, Senin(11/6/2018).

Bukti menunjukkan bahwa ketika ayah membangun ikatan dengan bayi mereka sejak awal kehidupan, mereka lebih mungkin memainkan peran yang lebih aktif dalam perkembangan anak mereka.

Penelitian juga menunjukkan bahwa ketika anak-anak berinteraksi secara positif dengan ayah mereka, maka anak akan memiliki kesehatan psikologis yang lebih baik, harga diri dan kepuasan hidup dalam jangka panjang.

Untuk itu, UNICEF mendesak pemerintah untuk menerapkan kebijakan ramah keluarga nasional yang mendukung perkembangan anak usia dini, termasuk cuti paternitas berbayar, guna membantu menyediakan waktu, sumber daya dan informasi yang dibutuhkan oleh orang tua untuk merawat anak-anak-nya.

Awal tahun ini, UNICEF me-modernkan pendekatannya terhadap ketentuan cuti untuk orang tua, dengan cuti berbayar hingga 16 minggu untuk para ayah di seluruh kantor UNICEF sedunia, sekaligus menjadi lembaga PBB pertama yang memperpanjang cuti tersebut melampaui standar empat minggu.

“Kami tidak bisa menjadi ‘Untuk Setiap Anak,’ jika kami tidak menjadi ‘Untuk Setiap Orang Tua’. Kita harus bertanya lebih banyak kepada pemerintah dan lebih banyak pengusaha jika kita akan memberi ayah dan ibu waktu serta sumber daya yang mereka butuhkan untuk mengasuh anak-anak mereka, terutama selama tahun-tahun awal kehidupan seorang anak,” ungkap Fore.

Di seluruh dunia, momentum untuk kebijakan ramah keluarga semakin meningkat, contohnya di India. Para pejabat disana mengusulkan RUU Manfaat Paternitas untuk dipertimbangkan dalam sesi Parlemen berikutnya, yang akan memungkinkan ayah mendapat cuti paternitas berbayar hingga tiga bulan.

“Namun masih banyak pekerjaan yang tersisa,” imbuhnya.

Ia menambahkan, Di 8(delapan) negara di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat(AS) yang dihuni hampir 4 juta bayi, tidak memberlakukan kebijakan cuti melahirkan untuk ibu (maternitas) atau paternitas berbayar.

Analisis baru ini membentuk bagian dari kampanye Super Dads UNICEF pada tahun kedua, yang bertujuan untuk memecahkan hambatan peran aktif ayah dalam membentuk perkembangan anak-anak mereka.

Kampanye perayaan Hari Ayah ini, telah diakui di lebih dari 80 negara pada bulan Juni yang berfokus pada pentingnya cinta, bermain, perlindungan dan nutrisi yang baik untuk perkembangan otak anak-anak yang sehat.

 

“Kemajuan dalam ilmu saraf telah membuktikan bahwa ketika anak-anak menghabiskan tahun-tahun awal mereka – terutama 1.000 hari pertama dari pembuahan hingga usia dua tahun – dalam lingkungan pengasuhan terstimulasi, koneksi saraf baru terbentuk pada kecepatan optimal. Koneksi saraf ini membantu untuk menentukan kemampuan kognitif anak, bagaimana mereka belajar dan berpikir, kemampuan mereka untuk mengatasi stress dan bahkan dapat mempengaruhi berapa banyak yang akan mereka hasilkan sebagai orang dewasa,” paparnya.

 

Seperti diketahui, The Lancet’s Series, Advancing Early Childhood Development: from Science to Scale, diluncurkan pada bulan Oktober 2016 lalu, telah mengungkapkan hampir 250 juta anak di bawah usia 5 tahun berada pada risiko perkembangan yang buruk karena stunting dan kemiskinan ekstrim.

Seri ini juga mengungkapkan bahwa program yang mempromosikan perawatan pengasuhan – kesehatan, nutrisi, perawatan yang responsif, keamanan dan keselamatan serta pembelajaran usia awal, menelan biaya 50 sen per-kapita per-tahun bila dikombinasikan dengan layanan kesehatan yang ada.

Untuk itu UNICEF menyerukan investasi dalam kebijakan ramah keluarga yang mendukung perkembangan anak usia dini, termasuk cuti kelahiran berbayar untuk ayah dan cuti hamil serta melahirkan untuk ibu, pendidikan pra-SD gratis, dan rehat menyusui berbayar.(r7)