UNICEF Minta Pemkot Ambil Sikap Terhadap Kasus Gizi Buruk di Surabaya

foto : Reni Astuti anggota Komisi D DPRD kota Surabaya saat berkunjung di rumah Ady(10) anak yang diduga penderita gizi buruk. Nampak Eko Basuki ayah Ady dan neneknya

Surabaya,(DOC) – Kasus gizi buruk di Surabaya, ternyata juga menarik perhatian United Nations Children’s Fund (UNICEF) selaku lembaga PBB yang berurusan dengan kesejahteraan anak-anak.

Kepala Perwakilan UNICEF untuk Pulau Jawa, Arie Rukmantara mendesak Pemkot Surabaya untuk segera ambil sikap, terhadap anak penderita gizi buruk asal Kedung Baruk Surabaya.

“Untuk penanganan kesehatannya ini kan saya pantau di pemberitaan sudah ditangani dengan baik. Tinggal bagaimana soal ketahanan pangan dia sehari-hari selanjutnya. Ini terkait kondisi sosial-ekonomi yang harus dipecahkan oleh pemerintah. Bukan hanya Surabaya saja, melainkan seluruh Indonesia,” kata Arie, Rabu (1/8/2018).

Menurut data UNICEF, penyebab timbulnya gizi buruk pada balita ada dua yaitu penyebab langsung yang berasal dari makanan balita dan penyakit infeksi yang mungkin diderita anak, dan penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di lingkungan keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan.

“Ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, pengetahuan tentang asupan makanan dengan prinsip Gizi Berimbang. Pengetahuan orang tua, guru, dan keluarga besar sangat penting untuk mengawal pola makan yang sehat dan seimbang. Kedua, tingkat kesehatan sejak di kandungan, sejak bayi dan selama masa tumbuh berkembang. Imunisasi sangat membantu anak menghindari terkena penyakit yang mengganggu pertumbuhannya. Ketiga, aspek sosial budaya dan cara merawat anak. Porsi makan anak harus menjadi yang pertama. Dan tidak selamanya yang instan itu baik. Pola konsumsi makan dan rumah tangga dipengaruhi oleh budaya masyarakat,” kata Arie.

Arie menambahkan, informasi dari keluarga anak penderita gizi buruk, selama ini Adi (10) makannya lahap. Namun hal itu bukanlah faktor yang bisa menghindarkan si anak menderita gizi buruk.

“Karena bukan kuantitas makannya, tetapi bagaimana asupan gizi di setiap makanan yang dikonsumsinya. Yang jelas, pada prinsipnya UNICEF siap bersama pemerintah Indonesia menjaga kesejahteraan anak-anak. Kami sudah hadir sejak era awal kemerdekaan hingga saat ini,” tandas Arie.

Terpisah, Eko Basuki orantua Adi anak yang diduga penderita gizi buruk menjelaskan, bahwa anaknya saat ini telah dirawat intensif di RSUD dr Soewandhie Surabaya.

Selama 2 tahun ini, anaknya menghabiskan waktunya di tempat tidur dan duduk di kamar kos yang berada di Jalan Kedung Baruk-Surabaya.

Menurut Eko, penyakit gizi buruk yang diderita anaknya ini berawal dari demam tinggi yang dirasakan saat berusia 7 tahun. Kemudian ia memeriksakannya ke dokter, namun demamnya tak turun dan sakitnya tak kunjung sembuh.

“Dulu dari lahir sampai usia 3,5 tahun Aldi ini baru bisa jalan kaki, setelah itu jalannya nggak normal seperti anak lain pada umumnya namun tidak ada indikasi apapun,” jelas Eko.(rob/r7)