Wakil Rakyat Yang Merasakan Getirnya Dunia Pendidikan

Surabaya, (DOC) – Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat dekat dengan salah satu politikus asal PDI Perjuangan. Wajar jika politikus wanita yang sudah menyandang gelar hajjah ini, terus peduli dengan masalah pendidikan. Dan tak salah pula jika sarjana pendidikan ini ditempatkan di Komisi D DPRD Surabaya yang mengurusi masalah dunia pendidikan.

Dialah Hj Khusnul Khotimah SP.d, wanita kelahiran Mai 1983 yang intens mengontrol masalah pendidikan di Surabaya. Wanita berjilbab lulusan IAIN Sunan Ampel jurusan Manajemen Pendidikan ini, peduli terhadap masalah pendidikan, baik urusan murid, kurikulum maupun kesejahteraan tenaga pengajarnya, karena juga sudah merasakan pahit getirnya dunia pendidikan.

Ibu dua anak yang sejak masa kuliah sudah menjadi guru tidak tetap di salah satu sekolah di Surabaya, merasakan bagaimana pertama kali dirinya belum mendapat jam mata pelajaran.

“Awalnya, sekitar 2003/2004 itu, saya hanya mengisi kegiatan ekstrakurikuler saja. Lalu sudah mendapat jam dan kemudian mendapatkan pelajaran dengan waktu mingguan. Dan saat ada kekosongan di guru agama, saya pun mendapat kesempatan itu,” beber Khusnul.

Politikus asal Kapas Madya Surabaya ini mengakui, setiap guru yang mendapat jam pelajaran lebih banyak tentu akan semakin mampu mengembangkan keilmuannya. Memang dia mengaku jika saat itu honorarium menjadi GTT tidaklah banyak.

“Saya dalam bekerja itu selalu teringat pesan bapak saya. Pesan bapak, jangan minta uang tapi mintalah pekerjaan. Sebab, uang itu cepat habis, sementara pekerjaan akan bisa mendapatkan segala-galanya. Karena itulah yang selama ini saya lakukan,” ujar istri dari pegawai di kementerian keagamaan ini.

Khusnul juga membeberkan saat ramai-ramainya ada demo GTT dan PTT yang saat itu dirinya belum menjadi wakil rakyat. Saat itu, dirinya tak bisa mengikuti demo tersebut lantaran anak didinya melaksanakan ujian. Sebagai tenaga pengajar, tentu hak murid lebih diutamakan.

Namun dirinya sempat titip pesan pada rekan-rekannya yang duduk di kursi wakil rakyat untuk selalu memerjuangkan hak para guru. Sebab loyalitas GTT itu tak kalah dengan PNS. Sayangnya, walau ini sudah diperjuangkan tapi tetap saja masih banyak GTT yang belum bisa menikmati haknya.

Kini setelah dirinya duduk di kursi wakil rakyat, adalah menjadi tanggung jawab dirinya untuk tetap memerjuangkan hak GTT. Paling tidak, GTT itu harus mendapat perlakuan dan hak yang sama. “Saya ini pelaku pendidikan, jadi merasakan hal itu. GTT itu punya motivasi dan dedikasi yang sama. Bahkan perkembangan keilmuan, GTT juga memiliki ilmu yang fresh alias baru. Tentu ilmu baru dengan yang lama tetap bisa bersinergi dengan tujuan mencerdaskan kehidupan pendidikan anak bangsa,” terang dia.

Di dewan ini pula, Khsunul akan berupaya memerjuangkan masalah hak (gaji) GTT. Di GTT menurut dia, pendapatan lain dengan guru PNS, sama. Hanya saja masalah gaji yang berbeda karena PNS menerima gaji bulanannya rutin dan murni. Sementara GTT dengan honorarium, tergantung keuangan daerah. Bisa saja GTT menerimanya tiga bulan sekali, padahal untuk masalah kehidupan rutin memiliki hak dan kewajiban serta kebutuhan yang sama dengan guru PNS.

“GTT itu sadar dengan kemampuan keuangan daerahnya. Tapi biar dibayar sedikit asal rutin tak jadi masalah, jangan sampai tiga bulan sekali baru terima gaji. Real kehidupan kita ini rutin setiap hari, bukan tiga bulan sekali. Nah dengan pendapatan Kota Surabaya saat ini, tentu harus mampu meningkatkan pendapatan GTT. Di dewan, saya tetap memerjuangkan masalah guru. Guru itu kelanjutan dari pendidikan. Pendidikan itu long life education. Disinilah kiprah untuk kemajuan dunia pendidikan,” tandas Khusnul.

Di Surabaya, semua pendidikan dan anak didiknya terjamin. Namun yang perlu ditingkatkan kualitas pendidikannya. Jangan sampai membuat kurikulum yang terlalu membebani anak didik karena itu bisa menggangu psikologis anak didik. Itu juga menyebabkan tak bisa berkembangnya kemampuan anak didik sesuai bakat dan minatnya.

Harapannya, semua elemen di Surabaya, bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan. Lakukan evaluasi bersama untuk mencari kelemahan di dunia pendidikan kita dan jika ditemukan segera lakukan tindakan untuk menutupi kelemahan itu dengan sistem atau kegiatan atau kreativitas untuk mendukungnya. (r4)