Wali Kota Surabaya Ngajar di Sekolah Kebangsaan

 Kesra

Surabaya, (DOC) – Puluhan siswa SD,SMP dan SMA terlihat memadati Jl. Peneleh gang VII. Sambil menyanyikan lagu ‘gebyar-gebyar’, mereka menyambut kedatangan Walikota Surabaya Tri Rismaharini di rumah HOS Tjokroaminoto, Kamis (1/11).

Maksud kunjungan walikota saat itu adalah untuk memberikan materi dalam Sekolah Kebangsaan. Untuk diketahui, Sekolah Kebangsaan merupakan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang dikonsep menyerupai sekolah dimana Kepala Sekolah dan guru pengajarnya adalah Walikota Surabaya didampingi oleh beberapa tokoh sejarah dan veteran. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan semangat kebangsaan dalam diri anak-anak muda Surabaya.

Risma yang saat itu didampingi cucu HOS Tjokroaminoto, Haryono Sigit, menyampaikan bahwa rumah HOS Tjokroaminoto memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Pasalnya, di rumah tersebut pernah tinggal Sang Proklamator. “Bung Karno belajar kepada HOS Tjokroaminoto tentang kepemimpinan, semangat untuk berjuang melawan penjajah. Kebetulan di depan rumah tersebut juga ada toko buku tempat Bung Karno belajar,” tutur walikota.

Mendengar apa yang dikisahkan Risma, para pelajar semakin antusias menyimak setiap perkataan orang nomor satu di Pemkot Surabaya itu. Termasuk saat dia menceritakan tentang pribadi sang empunya rumah. “HOS Tjokroaminoto pernah bekerja sebagai pegawai negeri di Ngawi. Ketika itu suasana masih dalam penjajahan Belanda. Beliau tidak tahan karena setiap bertemu pimpinannya harus jongkok-jongkok dulu. Memang sengaja dibuat seperti itu agar orang takut kepada Belanda,” ujarnya.

Karena keberanian dan semangatnya, HOS Tjokroaminoto dipilih menjadi pemimpin Syarikat Dagang Islam (SDI) dan mengubahnya menjadi Syarikat Islam (SI) yang pada akhirnya memiliki 80 cabang di Jawa dan Madura. Ia juga mendirikan koran Oetoesan Hindia sekaligus menjadi pemimpin redaksinya. “Melalui koran itu, HOS Tjokroaminoto menyebarkan semangat dan mengajak rakyat Indonesia untuk berjuang melawan penjajah,” terang Risma.

Menurut Risma sebagai warga Indonesia kita tidak boleh takut dan minder karena kita sejajar dengan bangsa lain. Walikota perempuan pertama di Surabaya itu menuturkan, di mata Bung Karno sosok HOS Tjokroaminoto adalah seorang pemimpin yang berani dan kritis terhadap pemerintahan Belanda.

“Yang bisa dicontoh dari kedua pahlawan ini adalah jiwa kesederhanaan mereka. Jadi, jangan karena tidak mampu kalian tidak mau belajar. Contohlah Bung Karno dan HOS Tjokroaminoto belajar pantang menyerah dalam kondisi serba terbatas. Jadi, tidak ada alasan untuk kalian tidak berhasil. Karena, kita semua berhak untuk berhasil,” pesannya dihadapan siswa.

Komunikasi antara walikota dengan siswa tak hanya berlangsung searah. Beberapa siswa juga terlibat tanya-jawab dengan walikota. Salah satunya Taufik siswa SD Muhammadiyah 2 yang bertanya bagaimana cara menjaga jiwa nasionalisme?

Walikota menjawab, nasionalisme menurutnya adalah mengisi kemerdekaan bukan untuk kepentingan diri sendiri. Oleh karenanya, kita harus peduli terhadap orang lain serta saling membantu satu sama lainnya. “Dan ingat, bawalah nama baik Indonesia di luar negeri, harumkanlah nama bangsa,” pesan Risma.

Berikutnya, Sekolah Kebangsaan akan singgah di rumah lahir Bung Karno (2/11), Rumah WR. Soepratman (5/11), SMPN 3 Surabaya (6/11), Museum Resolusi Jihat (7/11), dan rumah Alm. Roeslan Abdul Gani (8/11). (R9)