Wali Kota Surabaya Tolak Keinginan DPRD Relokasi SMP 42

 Kesra

Surabaya, (DOC) – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menolak permintaan anggota Komisi C (pembangunan) DPRD Surabaya untuk merelokasi SMP 42 yang terbakar pada Minggu, (7/10) dengan alasan pemerintah kota tidak memiliki lahan di kawasan tersebut.

Menurut Tri Rismaharini, selain tidak adanya tanah yang dimiliki pemkot, alasan lain adalah saat ini sudah banyak siswa yang menimba ilmu di SMP 42. Oleh karena itu, akan sangat kasihan bila kemudian sekolahnya dipindah ke daerah lain.

“Jika dipindah justru saya kasihan, sebab jarak yang akan ditempuh para siswa jadi jauh,” ujar tri Rismaharini saat ditemui usai Rapat Paripurna di Gedung DPRD Surabaya, kemarin Selasa, (9/19).

Apalagi disekolah tersebut juga digunakan dua shif. Itu artinya di kawasan itu sangat membutuhkan lembaga pendidikan. Kendati sekolah yang terletak di jalan Jl Pasar Loak itu berada di kelilingi pabrik. “Meskipun di sana kawasan industri, mereka juga butuh adanya lembaga dunia pendidikan buat anak anak mereka,” cetusnya.

Selain menolak rencana relokasi, menurutnya saat ini pemkot juga sedang berencana menata akses menuju SMP 42 dengan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR).  Karena selama ini, akses menuju sekolah hanya melaui jalan Pasar Lowak.

“Saya inginya ada jualan sendiri menuju SMP 42, sekarang lagi dicek apalagi lahanya juga milik pemerintah kota,” harap mantan Kepala Dinas Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Kota Surabaya itu.

Sementara ketika disinggung jika aktifitas belajar mengajar kerap teganggu dengan keberadaan pabrik pakan ternak, menurutnya itu bukanlah sebuah persoalan bagi pemerinath kota. Pasalnya, pemkot bisa memerintahkan untuk melakukan penutupan terhadap pabrik.

“Sekolahnya tetap di sana, biar pabriknya saja yang dipindah atau ditutup,” tandas Risma.

Untuk diketahui,  kemarin Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Simon Lekatompessy meminta agar SMP 42 segera direlokasi. Dirinya berasalan, kawasan pabrik tersebut sangat tidak layak dibangun gedung sekolah.

“Saya minta dipindah saja, masak para siswa harus belajar sambil menghirup bau yang tidak sedap dari pabrik,” ujar Simon kala itu. (K1/R9)