Wali Murid SDN Sememi 1 Labrak Dewan

 Featured, Kesra

Murid SDN Sememi 1

Surabaya, (DOC) – Ketua Komie SDN Sememi 1 Kecamatan Benowo, Budi mengaku kecewa dengan beredarnya kabar penarikan uang bimbingan belajar (bimbel) di sekolahnya. Menurutnya, alangkah baiknya anggota dewan yang bersangkutan melakukan klarifikasi terlebih dahulu dengan pihak sekolah sebelum menyebarkan berita tersebut ke awak media.

“Saya tidak tahu motifasi apa dari pak Masduki (Anggota Komisi D, red) megangkat masalah ini, padahal beliau sebenarnya seorang figur yang sudah cukup terkenal,” terang Budi saat hearing di runag Komisi D (pendidikan dan kesra) DPRD Surabaya, Senin (22/10/2012).

Menurut Budi, masalah bimbel yang terjadi pada siswa SDN Sememi 1 sebenarnya merupakan masalah yang cukup sepele. Namun akibat gencarnya pemberitaan di media massa,  mau tidak mau dirinya juga yang dibuat pusing karena kerap didatangi para walimurid.

“Les itu tidak ada paksaan, jika memang tidak percaya tanyakan langsung pada walimurid yang datang pada forum dengar pendapat kali ini,” tegasnya yang juga diamini para orang tua siswa.

Oleh karena itu, dia menegaskan bila kedatangan pihak sekolah dan juga walimurid kali ini bukan bertujuan untuk melakukan unjuk rasa apalagi meminta menurunkan Masduki Toha dari anggota Komisi D DPRD Surabaya. sebab tujuan awal mereka kali ini, tambah dia, hanya ingin meminta klarifikasi pemberitaan yang meresahkan para orang tua siswa.

“Masak hanya gara gara uang Rp50-80 ribu saja jadi konsumsi di media massa,” tukas Budi.

Senada dengan Budi, Kepala sekolah SDN Sememi 1, Trubus juga membenarkan bila pihak sekolah tidak pernah menaraik iuran untuk biaya les. Menurutnya, dari total sekitar 1300 anak didiknya, hanya sebagaian kecil saja yang mengikuti les tersebut.

“Dalam satu kelas biasanya terdri dari 40-42 siswa. Padahal yang ikut les paling Cuma 8-9 siswa dari masang masing kelas, makanya saya kaget lihat pemberitaan di media,” ungkap Trubus.

Trubus menjelaskan, SDN Sememi 1sebenarnya sudah memberikan banyak fasilitas kemudahan bagi para siswa. Mulai dari pemberian buku gratis hingga buku lembar kerja siswa (LKS) yang diberikan secara Cuma Cuma oleh pihak sekolah. Untuk itu, dirinya tidak setuju bila ada yang mengatakan pelaksanaan les di luar sekolah hanyalah modus untuk melegalkan penarikan terhadap siswa.

Eko Prastiyaningsih, Kebala Bidang Pendidikan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Surabaya, menyatakan hanya bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang terjadi di SDN Sememi 1.   Eko menjelaskan, memang untuk sekolah sudah gratis, akan tetapi tanggung jawaba np;endidikan sebenarnya berada pada tri pusat pendidikan. Yaitu, orang tua, pemerintah dan masyarakat.

Menurut Eko, untuk pemerintah sebenarnya telah banyak memberikan fasilitas kepada para siswa. Namujn tidak jarang karena menginginkan pendidikan terbaik bagi si buah hati, paa walimurid kemudian mengikutkan anaknya dengan mengikutkan privat atau les tambahan. “Pada intinya satiap ada masalah kita pasti akan turun tangan,” ujar Eko.

Sementara Anggota Komisi D, Masduki Toha membantah bila diriya mmemiliki tujuan tertentu dibalik aksinya yang melaporkan kejadan tersebut ke media. Menurutnya, hati siapapun pasti akan terketuk apabila menemukan salah seorang siswa yang dilarang ikut les lantaran berasal dari keluarga tidak mampu.

Menurut Msduki, niatan awal dirinya menyebarkan berita itu ke media tidak pernah sekalipun terbesit untuk memojokan walimurid. Lebih dari itu, ia justru ingin membantu salah seorang peserta didik agar bisa menikmati fasilitas yang sama dengan siswa yang lain.

“Kalau tidak percaya tanya pada teman teman media yang hadir sekarang, bahwa pesan singkat yang saya kirim tidak ada kata kata mendeskriditkan walimurid,” jelas Masduki Toha. (K1/R4)