Walikota Tak Surut Menutup Dolly, Meski Warga Menolak

Tidak ada komentar 173 views

Surabaya,(DOC) – Meski terdapat perlawanan dari warga sekitar Gang Dolly dan Putat Jaya, nampaknya tidak menyurutkan sikap walikota Surabaya Tri Rismaharini untuk menutup lokalisasi terbesar se-asia tenggara tersebut.
Dalam beberapa minggu terakhir ini, intensitas petugas keamanan menggelar razia tempat prostitusi, Dolly kian meningkat. Bahkan Terakhir, razia yang dilakukan oleh petugas gabungan dari Satuan Politis Pamong Praja (Satpol PP) Surabaya, Polrestabes dan Garnisun Tetap (Gartap) III Surabaya digelar pada Sabtu (3/5/2014) dan Minggu (4/5/2014), dan sempat mendapat acungan sebilah pedang dari warga. Rentetan razia ini digelar sebagai prakondisi kebijakan walikota Surabaya Tri Rismaharini.
Seiring dengan digelarnya razia, warga setempat juga mulai berani bersikap untuk menolak penutupan. Di gang Dolly misalnya, terdapat spanduk bertuliskan “Tolak Penutupan Lokalisasi Karena Tidak Manusiawi”. Razia sendiri dilakukan pada tengah malam, sekitar pukul 23.00WIB. Para petugas merazia dengan memeriksa setiap kamar di seluruh wisma. Dolly yang juga menyatu dengan lokalisasi Jarak dihuni sebanyak 1.080 pekerja seks komersial (PSK), 300 mucikari dan tinggal bersama sekitar 400-warga setempat. “Kami tidak akan surut (menutup lokalisasi pada 19 Juni). Kami sudah sosialisasi ke pemilik wisma dan juga tokoh-tokoh masyarakat setempat,” ujar Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, usai pelantikan Wakil Ketua DPRD yang baru, Armuji, di gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (5/5/2014)

Risma, panggilan akrab Tri Rismaharini mengaku tidak mempersoalkan adanya penolakan warga setempat. Penolakan ini merupakan hal wajar. Saat menutup lokalisasi Sememi dan juga beberapa lokalisasi yang lain juga ada penolakan warga sekitar. Pihaknya sendiri belum memutuskan apakah akan menambah jumlah petugas yang merazia atau ada tindakan-tindakan lainnya. “Kalau nanti sudah tutup (Dolly), kami akan paparkan sedetil-detilnya konsepnya seperti apa. Ini merupakan bagian dari strategi kami. Tahu tidak, yang mengajukan (penutupan Dolly) ke kami itu ada yang ditekan dan diancam dibunuh. Jadi tolong bantu kami, ini bukan perkara mudah,” terangnya.

Wali kota yang diusung dari PDI-P ini menambahkan, pihaknya kini sudah menawarkan pada pemilik wisma untuk menjual rumahnya. Nantinya, wisma tersebut oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan diubah menjadi sentra kerajinan, pendidikan anak usia dini (PAUD) ataupun tempat-tempat pelatihan bagi PSK, mucikari maupun warga sekitar. “Penutupan ini bukan untuk saya. Tapi saya ingin menyelamatkan anak-anak yang tinggal disana. Yang menjadi berat di Dolly itu, semua bercampur jadi satu, ada PSK, mucikari warga dan juga anak-anak. Kalau terpisah mungkin akan sedikit ringan,” tandas mantan kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini. (lh/r7)