Walikota Yakin Pengrajin Batik Bisa Bersaing di Era AFTA

Surabaya,(DOC) – Warga Kota Surabaya kembali diingatkan tentang pentingnya kemandirian dalam berusaha jelang datangnya era AFTA (Asean Free Trade Area) pada tahun 2015 mendatang. Kemandirian berusaha mutlak dimiliki warga Kota Pahlawan jika ingin tetap survive dalam menghadapi persaingan perdagangan global di tingkat ASEAN.
Pernyataan tersebut disampaikan Walikota Surabaya, Ir Tri Rismaharini MT, ketika memberikan sambutan dalam acara pelatihan batik tulis Kota Surabaya di aula Kecamatan Wonocolo, Kamis (12/9/2013). Pelatihan membatik yang digagas Forum Perempuan Surabaya ini diikuti ibu-ibu rumah tangga yang berasal dari beberapa kecamatan di Kota Surabaya.
Dikatakan Walikota Risma, dirinya hadir demi mengingatkan ibu-ibu tersebut tentang perlunya bersiap diri menghadapi AFTA 2015. Sebab, jika tidak diingatkan, warga Kota Surabaya dikhawatirkan akan kaget dan hanya menjadi penonton.
“ Nanti, orang Asia akan bisa masuk ke Surabaya tanpa batas. Kalau sekarang kan tidak. Apakah kita bisa bertahan dengan kondisi seperti itu? Saya katakan kita harus bisa. Karena itu, saya datang di acara ini untuk menyemangati ibu-ibu bahwa kita bisa bersaing dengan orang-orang dari luar negeri,” tegas Walikota Risma.
Menurut Walikota Risma, kemandirian dalam berusaha, dengan sendirinya akan muncul bila seseorang mau memanfaatkan waktu luang. Dan pelatihan batik menulis ini merupakan salah satu wahana untuk menciptakan kemandirian dalam berusaha. Jika ibu-ibu rumah tangga di Kota Pahlawan sudah terlatih dan piawai membuat batik tulis, diharapkan ke depannya mereka bisa memproduksi sendiri batik tulis di rumah mereka. Apalagi, pasar sejatinya sudah tersedia berupa jumlah penduduk Surabaya yang mencapai 3 juta jiwa. Itu belum termasuk penduduk dari kota tetangga Surabaya.
“Suatu saat, keahlian membatik itu akan bisa jadi generator untuk pendapatan keluarga. Daripada waktu luang hanya dipakai untuk menonton sinetron, lebih digunakan untuk belajar membatik. Mari bersama-sama kita manfaatkan waktu yang diberikan Tuhan,” sambung walikota perempuan pertama di Pemerintah Kota Surabaya ini.
Walikota mengatakan, selama ini, dirinya rajin mempromosikan produk batik tulis Surabaya ke luar daerah, bahkan ke luar negeri. Salah satunya dengan setia mengenakan batik tulis pada acara-acara di luar kota ataupun di luar negeri. “Batik tulis Surabaya itu antik, tidak seperti batik buatan mesin,” ujar Walikota Risma.
Sementara Penasehat Ketua Forum Perempuan Surabaya, Supomo mengatakan, kegiatan pelatihan membatik tulis ini diikuti oleh 62 ibu-ibu rumah tangga yang berasal dari Kecamatan Wonocolo, Sukolilo, Gubeng Tenggilis. Mereka akan belajar membuat gambar dan mencanting. Selama pelatihan, mereka akan terbagi dalam dua grup. “Sebenarnya membatik ini tidak sulit asal ada niat. Ada warga yang awalnya pasang kancing saja miring, tetapi sekarang sudah handal. Bahkan sudah ada ibu yang bisa memproduksi sendiri,” ujar Supomo.
Dikatakan Supomo, batik tulis memang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi dibandingkan dengan batik pabrikan. Harganya pun relative lebih mahal. Namun, dia meyakini, batik tulis memiliki penggemar tersendiri sehingga dengan sendirinya akan dicari orang. “Saya percaya, batik tulis ini banyak yang nyari. Yang terpenting ibu-ibu bisa berkarya sambil nyari uang,” imbuh dia.
Ketua Forum Perempuan Surabaya, Susi F Indriati menambahkan, pelatihan ini tidak sebatas hanya membuat batik tulis. Forum Perempuan Surabaya dengan bantuan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Surabaya juga akan berupaya memasarkan produk batik tulis buatan ibu-ibu rumah tangga di Surabaya. “Kita akan memb erikan akses untuk memasarkan produk batik tulis ini. Saya punya show room di Royal Plaza yang bisa dipakai untuk memperkenalkan batik tulis hasil produksi ibu-ibu Surabaya,” ujarnya.
Salah satu peserta pelatihan batik tulis, Kuntowati mengatakan, dirinya sejak lama tertarik untuk mengikuti pelatihan batik tulis. Namun, karena terbatasnya waktu dirinya baru bisa mengikuti pelatihan pada bulan ini. Warga Kecamatan Gubeng ini bermimpi bisa memproduksi batik tulis dengan desainnya sendiri. “Saya ingin memproduksi batik tulis dengan desain khas dan berbeda dari yang lain. Kemudian saya pasarkan sendiri,” ujar ibu rumah tangga berusia 42 tahun ini.(r7)