Warga Kampung ‘Ngesong’ Gelar Tradisi Sedekah Bumi

foto : Gunungan adat Sedekah Bumi

Surabaya,(DOC) – Meski kota Surabaya sudah berubah sebagai Metropolitan, namun tradisi kuno untuk merayakan hasil kerja selama setahun, masih dipertahankan oleh sejumlah kelompok masyarakat.

Tradisi ini dinamakan “Sedekah Bumi” yang diperingati oleh beberapa kelompok warga perkampungan dengan gaya berbeda-beda, sekaligus sangat unik.

Kali ini warga kampung ‘Ngesong’ Surabaya yang melakukan acara adat “Sedekah Bumi” didaerah sekitarnya, Minggu(8/10/2017).

Ratusan warga kampung ‘Ngesong’ yang kawasannya sekarang telah berubah nama menjadi Simomulyo, berbondong-bondong mengarak gunungan(Tumpeng ukuran raksasa,red) berkeliling kampung menuju Punden Sumur yang lokasinya tak jauh dari pemukiman warga.

Gunungan yang diibaratkan sebagai hasil bumi warga kampung Ngesong ini, berisi nasi kuning dan beraneka ragam makanan sumbangan dari warga. Usai arak – arakan, gunungan ini dibagikan kepada warga dan para pengunjung yang menonton acara langka tersebut.

“Selain diarak, warga juga melakukan ritual upacara adat di Punden Sumur. Setelah itu, dibagikan. Isinya macam-macam, mulai dari lauk-pauk, nasi tumpeng sampai buah-buahan dan sayur-sayuran,” jelas Nuraini, salah satu warga kampung ‘Ngesong’ yang turut upacara adat.

Sementara itu, Suyono ketua Panitia acara ‘Sedekah Bumi’ kampung Ngesong Surabaya, menyatakan, tradisi ini digelar oleh warga setiap tahun, dibulan Oktober. Selain upacara adat, acara juga diramaikan dengan sajian tari-tarian asli kampung ‘Ngesong’, dan pertunjukkan kesenian nenek moyang terdahulu.

“Sedekah Bumi ini merupakan adat kampung sini untuk mengungkapkan rasa syukurnya kepada sang pencipta. Setiap tahun warga selalu kompak untuk menggelar tradisi ini, tanpa melihat agama dan golongannya,” ungkap Suyono disela acara.(hd/r7)