Warga Lokalisasi Demo,Tak Mau Ganti Rugi Penutupan Lokalisasi

Surabaya,(DOC) – Pertemuan Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti Buana dengan warga lokalisasi, Jumat(16/5/2014) lalu, memicu reaksi ribuan Pekerja Seks Komersial(PSK), Mucikari, PKL, pekerja lokalisasi serta warga sekitar lokalisasi untuk menggelar aksi demonstrasi menolak penutupan lokalisasi Surabaya.
Massa yang mengatasnamakan diri Front Pekerja Lokalisasi (FPL), menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Kelurahan Putat Jaya, Senin (19/5/2014) pagi ini.
Dalam orasinya, salah satu orator menyatakan masyarakat lokalisasi Dolly dan Jarak, sepakat menolak penutupan lokalisasi, meski dengan iming-iming ganti rugi. “Tolak penutupan lokalisasi adalah harga mati. Kita tidak tergiur dengan iming -iming ganti rugi pemkot,” ujar salah satu orator.
Selain pernyataan sikap yang disampaikan berulang-ulang, para peserta aksi juga sempat melontarkan hujatan ke Walikota Surabaya yang telah mengeluarkan kebijakan dengan arogan tanpa memikirkan nasib warganya.
Sementara itu, sebelum aksi, Wakil Walikota Surabaya Wisnu Sakti Buana memang telah mendapat tugas dari Walikota untuk menemui warga terdampak atas penutupan lokalisasi Jarak dan Dolly. Pertemuan berlangsung di Balai RW 11 Kelurahan Putat Jaya Kecamatan Sawahan, Jumat (16/05/2014) Minggu lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Wisnu Sakti menyampaikan pesan Walikota Surabaya, yang ingin memberikan ganti rugi pasca penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak. Namun tawaran tersebut tidak di respon positif oleh warga. Malah sebaliknya, warga menitip pesan ke Wisnu, agar Walikota Surabaya datang dan menemui warga terdampak langsung.
“Kita ingin Bu Walikota sendiri yang datang dan berdialog dengan kami. Kami ingin berkeluh kesah secara langsung tentang beban hidup kami kalau lokalisasi ditutup,” ujar seorang Warga Putat Jaya.
Warga juga mengatakan bahwa untuk lokalisasi Pemkot tidak perlu repot untuk menutup, pasalnya banyak wisma di sekitar Jarak yang kini sudah tutup sendiri. Warga tersebut mencontohkan bahwa di gang 2A, Kelurahan Putat Jaya yang dulunya kompleks lokalisasi, sekarang sudah menjadi perkampungan warga biasa.
“Tidak usah repot- repot nutup, banya contoh yang sudah tutup sendiri. Itu karena faktor usia. Kalau sudah tua dan kalah saingan pasti wismanya tutup sendiri,” bebernya.(r7)