Warga Simolawang Resah Ulah Kontraktor

Tidak ada komentar 269 views

Surabaya, (DOC) – Puluhan warga Simolawang Gang 1 Kecamatan Simokerto, RW 10 dibuat resah dengan ulah kontraktor pembangunan perumahan di kawasan tersebut. Bagaimana tidak? Akibat ulah kontraktor yang melakukan pembangunan secara sembarangan, kini belasan rumah warga yang berada di belakang proyek pembangunan menjadi korbannya.

Bila dilihat dari depan memang tidak diketahui bila dalam proses pembangunan perumahan yang sedang dikerjakan itu terdapat keganjilan. Namun ketika ditelusuri lebih jauh, tepatnya di belakang pagar yang sudah dibangun atau persis di depan rumah warga, baru diketahui ternyata pembangunan tersebut banyak pelanggaran yang dilakukan pengembang.

Mulai dari pagar bangunan yang memakan area milik warga, hingga pembangunan pagar yang dibangun persis di depan rumah. Tak ayal akibat arogansi yang dilakukan kontraktor itu, kawasan perumahan warga yang sebelumnya dikenal sejuk, bebas banjir kini mulai dikeluhkan warga. Bahkan akibat adanya pembangunan itu, kini untuk keluar masuk kendaraan bermotor saja warga tidak bisa melakukanya.

“Ya akibat ada bangunan ini otomatis kami terpaksa menitipkan sepeda motor kami ke rumah tetangga, seperti sampean lihat jarak antara pagar rumah kami dengan bangunan tidak sampai satu meter,” terang Priskila, salah satu warga yang ditemui wartawan kemarin.

Menurut Priskila, sebelum pembangunan dilakukan, sebenarnya pihak kontraktor sudah memberi garansi kepada warga bahwa jarak antara rumah warga dengan proyek yang akan dikerjakan sekitar dua meter. Namun  dalam realisasinya, ternyata janji tersebut tidak ditepati.

Priskila mengungkapkan, sebenarnya sudah banyak cara yang ditempuh oleh keluarganya beserta warga yang lain terkait masalah ini. Mulai lapor ke kelurahan, kecamatan sampai ke Anggota DPRD Surabaya. Sayangnya hingga saat ini, belum ada perkembangan. Bahkan berdasarkan audiensi antara warga dengan pihak kecamatan beberapa saat yang lalu, pihak kecamatan terkesan tidak memberikan respon yang baik prihal aduan yang disampaikan masyarakatnya.

“DPRD katanya baru mau sidak ke lapangan, sedang kecamatan kelihatanya angkat tangan terkait masalah ini,” tandasnya.

Warga menceritakan, sebelum dibeli pengembang  tanah yang saat ini dibangun kontraktor adalah fasilitas umum selama 70 tahun. Oleh karena itu, dirinya beserta warga yang lain berharap kontraktor melunak dan memberikan akses jalan bagi rumah warga yang berada di belakang proyek pembangunan.

Informasinya, pembangunan itu ternyata belum ada  Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) dan HO. (k1/r9)