Waspadai Jual Beli Bangku Sekolah

Tidak ada komentar 234 views

Surabaya (DOC) – Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) diprediksi bakal tidak berjalan lancar. Terutama, konsep sekolah kawasan yang sejak beberapa tahun belakangan diterapkan. Faktanya, hingga tiga jam menjelang penutupan PPDB hari ini (19/6), jumlah pendaftar yang masuk masih jauh dari pagu. Dari jumlah pagu 4.300 baru masuk sebanyak 4.200 di tingkat SMA. Sebelumnya, Dinas Pendidikan menargetkan pendaftar di sekolah SMA kawasan sebanyak 9.000 siswa.

Minimnya peminat di sekolah kawasan di duga karena para orang tua siswa masih mempertimbangkan grade (nilai) yang ada di masing-masing sekolah. Sehingga, mereka lebih memilih sekolah yang tidak masuk dalam sekolah kawasan. Ujungnya, pendaftar di sekolah-sekolah tersebut membludak, sementara sekolah kawasan sepi peminat.

Kekurangan pagu di sekolah kawasan tersebut diprediksi membuka peluang praktik jual beli kursi. Terutama, para orang tua yang menginginkan anaknya masuk sekolah kawasan sementara dari sisi nilai tidak mencukupi.

Dewan Pendidikan Surabaya, Isa Ansori mengatakan, dari tahun ke tahun permasalahan pendidikan tidak lepas dari praktik semacam itu. Hanya saja, kata dia, untuk membuktikannya cukup kesulitan. ”Masalah semacam itu hampir setiap tahun terjadi, makanya perlu ada sistem yang bisa menangkal praktik-praktik semacam itu,” ujarnya.

Menurutnya, satu kursi kerap dihargai bisa lebih dari puluhan juta rupiah. Untuk itu, katanya, masyarakat harus ikut memantau baik sekolah yang dituju maupun Dinas Pendidikan Surabaya. ”Kalau ada diskriminasi semacam itu, laporkan ke kami, kami akan lakukan advokasi,” katanya.

Sementara Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Baktiono mengatakan, mekanisme sanksi harus diterapkan ketika terjadi praktik jual beli kursi. Menurutnya, masyarakat bisa melaporkan masalah tersebut apabila merasa dirugikan. ”Kami buka posko pengaduan di gedung dewan, silakan datang,” katanya.(r3/r4/r7)