Waspadai Serangan Fajar Jelang Pemilu

Tidak ada komentar 106 views

Jakarta, (DOC) – Memasuki masa minggu tenang pemilu legislatif (pileg) 2014, kekhawatiran akan banyaknya serangan fajar dan politik uang yang akan menjadi senjata terakhir para oknum caleg dan partai sudah diperkirakan beberapa kalangan.
Maraknya praktik politik kotor seperti ini mengundang keprihatinan dari pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego. Menurutnya, sekarang ini mayoritas para caleg dan partai masih menggunakan cara instan dan hanya orientasi pada mengejar target perolehan suara.
“Parpol hanya mengejar suara agar bisa lolos. Ideologinya pun sangat tidak jelas. Cara instan itu yang membuat ongkos politik membengkak karena setiap caleg saling berebut suara hanya dalam waktu satu bulan,” ucap Indria.
Indria juga menambahkan, karena mahalnya ongkos politik akhirnya banyak caleg yang berpikir ingin balik modal. “Tingginya ongkos politik itu membuat caleg yang terpilih berupaya mengembalikan modal dan tidak lagi memperjuangkan kepentingan konstituen. Jadinya ongkosnya mahal dan mikir balik modal. Itu yg mendorong anggota DPR kembali lagi bertarung. Dari 560 anggota DPR, sebanyak 520 anggota balik lagi,” tutur Indria.
“Tinggal hitungan beberapa hari lagi dan kita juga sudah masuk minggu tenang. Saran saya untuk pemilih, agar lebih memperhatikan rekam jejak para calon wakilnya, karena hanya itu satu-satunya mengenal yang terpilih,” ucap Indria.
Pegiat anti-korupsi, Taufik Basari, menyerukan agar masyarakat atau pemilih untuk melawan politik uang atau politik transaksional dalam Pemilu 2014. “Pemilu 2014 merupakan persimpangan untuk melakukan perubahan lebih baik. Dalam hal ini, setiap parpol memiliki komitmen untuk memperbaiki bangsa ini,” ucap Tobas panggilan akrab pria lulusan Northwestern Univerity ini.
Taufik juga mengajak masyarakat untuk melaporkan jika menjelang pemungutan suara nanti ada informasi mengenai politik transaksional atau serangan fajar di daerahnya. “Tapi mohon pastikan juga ada bukti seperti saksi dan verifikasi terlebih dahulu untuk menghindari fitnah. Semoga jika kita melawan politik uang ini secara bersama-sama, kualitas proses demokrasi Indonesia akan lebih baik,” tuturnya. (r4)