Workshop Varises: Ajari Dokter Teknik USG dan Early Treatment pada Varises

Surabaya, (DOC)–Kasus varises yang cukup tinggi di tengah masyarakat menuntut para dokter lebih memahami penanganan yang benar. Varises Indonesia dan Klinik Varises RS Universitas Airlangga (RSUA) menggelar workshop khusus varises pada puluhan dokter dari berbagai penjuru nusantara.

Workshop digelar di ruang praktek Klinik Varises RSUA selama dua hari, 20-21 Januari 2018. Selanjutnya, agenda ini dilanjutkan dengan family healthy weekend yang menyediakan screening gratis varises untuk masyarakat awam.

Antusiasme peserta yang terdiri dari paramedis serta dokter umum hingga dokter bedah cukup tinggi. Terbukti, banyak peserta yang datang dari berbagai daerah bahkan luar pulau. Mulai dari Batam sampai dengan Papua Barat.

“Alhamdulillah ada 51 peserta. Tujuan kami sebenarnya mengedukasi para medis termasuk dokter terutama agar lebih aware tentang penanganan varises,” ungkap Founder Varises Indonesia sekaligus spesialis bedah Thoraks Kardiovaskular RSUA dr. Niko Azhari Hidayat Sp.BTKV.

Sesuai pengalaman yang diperoleh dari Varises Indonesia, lanjut Niko, masyarakat kini mulai terdidik dan belajar salah satunya lewat pesatnya sosial media. Maka, pihaknya tak ingin tenaga medis seperti dokter juga tak ketinggalan untuk tampil lebih siap dan lebih uptodate.

“Masyarakat sekarang lebih pinter. Jangan sampai masyarakat yang sudah tahu, tapi dokter yang harus melayani belum siap. Ini tidak seimbang,” tandas alumnus Fakultas Kedokteran Unair itu.

Pantauan DOC, peserta terlihat serius mengamati pemaparan dari dr. Niko dan kawan-kawan. Satu persatu, peserta berkesempatan langsung untuk mencoba melakukan pindai atau diagnosis dengan alat peraga USG yang disiapkan.

Mereka memperagakan tuas yang meraba bagian kaki pasien mulai mata kaki, menuju ke atas bagian paha. Hal itu untuk mempelajari gambaran jenis pembuluh darah yang terpampang di monitor USG, yakni vena dan arteri.

Nah, biang varises terjadi pada pembuluh darah vena. “Kami ajarkan mereka membedakan pembuluh vena lewat monitor USG, juga cara mengukur vena sehingga tahu mana yang varises dan bukan?”, urai Niko.

Selanjutnya, peserta diajarkan tentang early treatment atau penanganan awal bila pasien yang telah di-USG terdiagnosa varises di kakinya atau bagian tubuh lain.

Cara yang lazim ialah pemberian bebat elastis (bandage) dan medical stocking atau kompresi. Peserta mempraktekkan teknik membebat dan pemakaian stocking atau kompresi dengan cara yang tepat.

“Bandage ini gunanya untuk menekan pelebaran vena yang melebar karena varises. Dengan dikompresi akan lebih enak karena ukurannya vena yang melebar kembali ke normal,” terang pria dengan satu anak itu.

Pada hari selanjutnya, dokter peserta workshop berkesempatan merasakan langsung dalam bertugas screening USG varises kepada masyarakat yang hadir pada pekan keluarga sehat.

Niko berharap, para peserta dapat memanfaatkan ilmu yang telah diperoleh, serta mengembangkannya untuk kemaslahatan masyarakat di daerahnya masing-masing.

“Hanya ilmu bermanfaat yang kita ingin sampaikan. Tetapi perjuangan tetap milik mereka di lapangan untuk mengamankannya dengan baik,” titah Niko.

Datang dari Papua Demi Belajar Teknik USG Varises

Workshop Varises USG Diagnostic and Early Treatment juga secara sadar membawa dr. Vioni Venska rela terbang jauh dari Kaimana, Papua Barat menuju Surabaya.

Dokter yang bertugas di RSUD Kaimana itu mengaku penasaran dan ingin menggali lebih dalam soal varises. Terlebih kasus ini juga tergolong sering didapati Vio selama melayani masyarakat Kaimana.

“Kunjungan kasus varises memang cukup banyak. Terutama wanita yang mulai berumur. Tapi banyak mereka yang datang sudah grade 3 hingga grade 4 jadi susah untuk ditangani,” ujar alumnus Universitas Wijaya Kusuma ini.

Dari situ, Vio menyayangkan pasien varises mayoritas terpaksa harus dirujuk karena kondisi yang sudah mengkhawatirkan. Padahal, bila memahami cara penanganannya, varises bisa diobati lebih dini.

Setelah menemukan komunitas Varises Indonesia di Facebook, Vio mulai mempelajari dan berinteraksi lewat sosmed itu. Nah, setelah dibuka workshop, Vio langsung mendaftarkan dirinya. Dia bahkan berangkat seorang diri serta menetap sementara di Surabaya selama mengikuti serangkaian pelatihan.

“Saya senang karena banyak pengetahuan baru dan fresh yang saya dapatkan. Jenis USG varises yang digunakan juga pengalaman kali pertama saya,” tandasnya. (Nps)