Bedah Penyebab KM Virgo Terbalik, Pakar ITS Soroti Masalah Desain Kapal

Bedah Penyebab KM Virgo Terbalik, Pakar ITS Soroti Masalah Desain Kapal
Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan ITS, Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama, M.Sc., Ph.D. (Foto: Ist)

Surabaya, (DOC)Insiden terbalik dan tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Kepulauan Masalembo, Laut Jawa, mematik perhatian pakar hidrodinamika dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan ITS, Prof. Ir. I Ketut Aria Pria Utama, M.Sc., Ph.D., menilai akar masalah insiden tersebut bukan sekadar faktor usia kapal, melainkan ketidaksesuaian desain kapal impor Jepang dengan karakteristik lautan Indonesia.

Bacaan Lainnya

Kapal jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro) berusia sekitar 30 tahun tersebut awalnya dirancang untuk perairan Jepang yang berjarak antarpulau relatif dekat. Sementara itu, Laut Jawa memiliki karakteristik perairan terbuka dengan gelombang tinggi yang ekstrem.

“Dari segi teknik perkapalan, usia kapal tidak masalah selama perawatannya baik. Yang perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia yang bergelombang tinggi,” tegas akademisi yang akrab disapa IKAP tersebut.

IKAP membedah sejumlah faktor teknis dan operasional yang saling berkaitan hingga menyebabkan KM Virgo Transport 8 kehilangan stabilitas di tengah laut.

Menurutnya, kapal Ro-Ro asal negara empat musim seperti Jepang umumnya menggunakan desain lambung tertutup rapat untuk menahan cuaca dingin. Sebaliknya, pelayaran tropis di Indonesia memerlukan penyesuaian khusus pada bukaan samping dan tata ruang untuk stabilitas serta efisiensi energi.

“Adanya gelombang tinggi, cuaca buruk, atau pintu rampah (ramp door) yang tidak kedap air berpotensi memasukkan air laut dalam jumlah besar ke dalam dek kendaraan,” terangnya, Rabu (16/9/2026).

Selain itu, genangan air di dek yang tidak segera dibuang oleh sistem pompa memicu pergerakan cairan liar. Hal ini mengakibatkan kapal bergoyang ekstrem dan kehilangan keseimbangan (seakeeping).

“Risiko stabilitas kian memburuk jika kendaraan di dalam dek tidak diikat (lashing) sesuai standar, sehingga beban bergeser dan mengubah titik pusat massa kapal secara drastis,” imbuhnya.

Baca Juga:  Korban Meninggal Tenggelamnya Kapal Tunu Dapat Santunan Masing-masing Rp50 Juta

Selain faktor teknis kapal, IKAP menyoroti tingginya potensi risiko korban akibat minimnya edukasi keselamatan bagi penumpang. Penerapan standar pelayaran yang ideal wajib menyertakan pengumuman prosedur darurat (safety induction) sebelum kapal bertolak.

“Penumpang harus memahami langkah evakuasi mandiri untuk mengantisipasi situasi darurat yang tidak terduga di tengah laut,” pungkas Kepala Pusat Studi Sains dan Teknologi Kelautan-Kebumian ITS tersebut.

Pos terkait