
Surabaya, (DOC) – Memperluas jangkauan pasar kini tak lagi menuntut modal besar atau kepemilikan toko fisik. Berbekal telepon genggam (handphone), pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peluang emas untuk menyasar konsumen yang jauh lebih luas.
Potensi besar ini menjadi fokus utama dalam pelatihan digital marketing bagi kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) di kawasan Kenjeran, Surabaya.
Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur, Mohammad Syarrafah, menegaskan bahwa pemasaran digital adalah solusi nyata atas kendala klasik UMKM, yaitu keterbatasan jangkauan promosi yang selama ini kerap bergantung pada komunikasi dari mulut ke mulut.
“Sekarang berjualan tidak harus memiliki toko besar. Cukup menggunakan HP, pelaku UMKM sudah bisa mempromosikan produknya melalui WhatsApp, Instagram, Facebook, hingga TikTok. Yang penting tahu bagaimana memanfaatkan platform tersebut secara tepat,” ujar Syarrafah, Selasa (20/10/2026).
Menurut Syarrafah, perubahan perilaku konsumen yang kian terbiasa mencari informasi, membandingkan harga, dan berbelanja secara daring harus ditangkap sebagai momentum peningkatan daya saing.
Pemanfaatan media sosial pun tidak memerlukan keahlian teknologi yang rumit. Sebagai langkah awal yang praktis, pelaku usaha dapat memanfaatkan fitur katalog pada WhatsApp Business agar tampilan usaha terlihat lebih profesional.
Selain itu, visual produk olahan dapat dipertajam melalui Instagram, sementara Facebook bisa dimanfaatkan untuk menjangkau komunitas jual-beli lokal.
Adapun TikTok sangat efektif memperkenal keunggulan produk lewat video pendek kegiatan produksi sehari-hari.
“Pelaku UMKM tidak perlu langsung menggunakan semua platform. Mulailah dari media yang paling dikuasai dan paling dekat dengan konsumen. Setelah terbiasa, skala pemasaran bisa dikembangkan secara bertahap,” imbaunya.
Strategi ini dinilai sangat relevan bagi potensi kawasan Kenjeran yang kaya akan produk olahan hasil laut, camilan khas, serta ragam produk rumahan.
Melalui promosi digital yang konsisten, produk-produk Kenjeran yang semula hanya dikenal di lingkungan sekitar kini berpeluang menembus pasar antarkota hingga antarprovinsi.
Tak hanya media sosial, para peserta pelatihan juga dikenalkan pada marketplace nasional seperti Shopee dan Tokopedia, serta platform e-Peken yang merupakan ekosistem belanja digital khusus milik Pemkot Surabaya yang membuka akses pasar lokal secara luas.
Meski begitu, Syarrafah mengingatkan bahwa strategi digital marketing tak sekadar memindahkan lapak jualan ke internet, melainkan juga tentang membangun reputasi.
“Digital marketing bukan sekadar memindahkan jualan ke internet. Pelaku usaha juga harus membangun kepercayaan konsumen melalui informasi produk yang jelas, komunikasi yang ramah, dan pelayanan yang baik,” tegasnya.
(Penulis: Mohammad Syarrafah/ Dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur)





