
Surabaya, (DOC) – Nasib tragis menimpa Z (10), seorang anak berkebutuhan khusus (down syndrome) asal Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya.
Korban ditemukan tergeletak tak bernyawa dengan kondisi wajah membiru dan tali sepatu terikat di leher.
Kejadian memilukan ini pertama kali diketahui oleh ibu korban usai pulang berjualan dari pasar. Sang ibu mendapati Z sudah tak bergerak di teras rumah dengan bekas sabun colek di mulutnya dan tali terikat di leher.
“Istri saya teriak-teriak, ‘Bi, anake wis biru, anake wis biru!’ Saya yang saat itu ketiduran usai minum obat langsung terbangun,” ungkap ayah korban, SAW (53), Jumat (16/10/2026).
SAW langsung melarikan buah hatinya ke rumah sakit. Namun naas, nyawa Z sudah tidak dapat ditolong.
Terkuak Lewat Rekaman CCTV
Untuk menguak misteri kematian anaknya, SAW kemudian memeriksa rekaman CCTV di sekitar jalan kampung. Dari rekaman tersebut, terungkap ada dua anak seusia korban, yakni K (10) dan F (10), yang terlihat masuk ke dalam rumahnya secara bergantian.
SAW menuturkan, kedua anak tersebut memang kerap merundung Z. Seminggu sebelum insiden maut ini terjadi, korban pernah pulang dengan tali tampar mengalung di pundaknya.
“Seminggu sebelumnya ada tali tampar di pundaknya. Saya tanya dapat dari mana, tapi anak saya tidak bisa bicara (non-verbal) dan penglihatannya kurang jelas,” terang SAW dengan nada pilu.
Menuntut Keadilan Transparan
Kasus ini telah dilaporkan ke Polrestabes Surabaya. Namun, dari dua anak yang terekam CCTV, baru K yang ditetapkan sebagai tersangka, sementara F belum tersentuh hukum.
SAW menduga ada ketimpangan dalam penanganan kasus ini karena status F sebagai anak asuh pengurus RT setempat.
Ia berharap kedua pelaku mendapatkan pembinaan yang layak dan adil agar tidak ada lagi korban di masa depan.
“Saya menuntut kedua pelaku dibina sampai dewasa, sampai mereka mengerti mana yang benar dan salah, agar tidak merugikan orang lain lagi. Jangan cuma satu anak,” tegasnya.
Anggota DPRD Turun Tangan
Tragedi yang menimpa anak berkebutuhan khusus ini menuai keprihatinan publik. Anggota DPRD Kota Surabaya, Arjuna Rizky, langsung turun tangan dengan mendatangkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk mendampingi keluarga korban berjuang mendapatkan keadilan.
Hingga berita ini diturunkan, Kasat PPA PPO Polrestabes Surabaya, Kompol Melatisari, belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penanganan kasus tersebut.





