
Surabaya,(DOC) – Pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi simbol perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan dan eksistensi Republik Indonesia. Kader PDI Perjuangan Kota Surabaya, Achmad Hidayat, menyebut semangat perjuangan itu menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda masa kini.
“Tanpa kesolidan dan semangat gotong royong maka tidak akan terwujud kemerdekaan. Penghargaan bagi para pahlawan yang rela berkorban harus di jaga. Kisah Kyai Mas Kasanan menginspirasi kita bahwa niat tulus perjuangan dan semangatnya akan menyala sepanjang zaman,” ujar Achmad Hidayat.
Salah satu kisah heroik datang dari Slamet, cucu Kyai Mas Kasanan. Ia menceritakan bahwa sang kakek merupakan sahabat seperguruan Kek Suro dan Kyai Mas Arif. Mereka mendampingi Bung Karno di Ndalem Pojok, Kediri, sebelum ikut bertempur dalam Pertempuran 10 November 1945.
“Kakek saya ikut berjuang di bawah komando Laskar Penggempur Dalam yang di pimpin Letnan Matosin,” ungkap Slamet, warga Ngagel Tirto.
Ia menuturkan, banyak laskar rakyat yang bahu-membahu tanpa pamrih dalam mempertahankan kemerdekaan. Salah satunya adalah Laskar Minyak dari Ngagel, karena wilayah tersebut dahulu di kenal sebagai daerah kaya sumur minyak.
“Bahkan ada cerita, saat pertempuran di Jembatan Merah, peluru mitraliur 12,7 tak mampu menembus pejuang. Itu menunjukkan tekad rakyat yang luar biasa,” tambahnya.
Dua Perwira Inggris Gugur di Surabaya
Sejarah juga mencatat gugurnya dua perwira tinggi Inggris di Surabaya. Mereka adalah Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby dan Brigadir Robert Guy Loder-Symonds.
Mallaby merupakan perwira operasional Inggris yang memimpin Brigade 49 Divisi XXIII. Ia memimpin pendaratan pasukan di Tanjung Perak, Surabaya, dengan tugas memulangkan tentara Jepang setelah kekalahan mereka pada Perang Dunia II.
Sementara itu, Loder-Symonds meregang nyawa pada hari pertama pertempuran 10 November 1945. Keduanya menjadi bagian dari catatan sejarah yang menegaskan betapa sengitnya perlawanan rakyat Surabaya kala itu.
Slamet juga mengungkapkan, keluarganya tetap setia pada ajaran dan perjuangan Bung Karno meski harus menanggung konsekuensi berat di masa berikutnya.
“Setelah tahun 1965, seluruh aset keluarga kami di sita oleh Orde Baru. Tiga pabrik semprong di Sidotopo dan Ngagel di ambil alih. Bahkan paman saya, Brigjen Salim, di asingkan ke Pulau Buru tanpa proses pengadilan,” kenangnya.
Menghargai Pahlawan Tanpa Melihat Latar Belakang
Menurut Achmad Hidayat, perjuangan para pahlawan harus di pandang secara utuh. Setiap pengorbanan, besar maupun kecil, memiliki arti penting bagi lahirnya kemerdekaan Indonesia.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan tanpa melihat latar belakangnya. Tujuan mereka satu — Indonesia merdeka dan anak cucunya bisa menghirup udara kebebasan,” tegasnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga keutuhan sejarah agar tidak ada upaya pembelokan atau pengaburan fakta perjuangan.
“Kalau ngajinya kita utuh, maka kita juga akan menjadi bangsa yang mengerti tatanan,” pungkas Achmad. (r6)





