D-ONENEWS.COM

Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19 ala Bu Risma

Surabaya,(DOC) – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ternyata sudah memiliki formula khusus atau cara khusus untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Kota Surabaya. Dia tidak ingin, kasus Covid-19 di Kota Pahlawan ini seperti gunung es, ia pun membuka tabir-tabir itu dengan menggelar rapid test dan tes swab massal gratis.

Dia sangat yakin, semakin banyak melakukan rapid tes dan tes swab, maka semakin banyak pula yang diketahui siapa saja yang terkena virus, dan siapa pula yang aman. Dengan cara ini, tentu semakin mudah memutus mata rantai penyebarannya, meskipun terkadang angka positif terlihat naik.

Wali Kota Risma mengaku berbagai upaya telah dilakukannya dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini. Ia menjelaskan, sejak awal Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sudah memasifkan tracing dan melakukan pengelompokan atau klaster terkait pasien Covid-19, sehingga bisa diketahui orang-orang yang berstatus OTG, ODP, PDP, dan konfirmasi Covid-19. Data tersebut sudah dikantonginya, termasuk data-data tracingnya sejak awal hingga saat ini.

“Alhamdulillah sampai hari ini tidak keluar dari data kami. Biasanya, pertambahan positif itu berasal dari ODP atau PDP yang baru keluar swabnya dan ternyata positif, dan itu sudah kami pantau,” kata Wali Kota Risma.

Karena semua datanya sudah lengkap, kemudian untuk memastikan seseorang itu negatif atau positif Covid-19, maka Pemkot Surabaya menggelar rapid tes dan tes swab massal gratis. Prioritasnya, wilayah yang ada pasien terkonfirmasi atau positif Covid-19, dan tempat kerumunan warga seperti di pasar dan permukiman padat penduduk. Bahkan, ketika ada suatu wilayah terdapat warga yang positif, warga di sekitarnya langsung di rapid tes dan tes swab massal. “Tes massal ini penting untuk melacak orang-orang yang terkena Covid-19, sehingga akan lebih gampang memutus mata rantai penyebarannya,” kata dia.

Sejak akhir bulan lalu, Pemkot Surabaya dibantu mobil laboratorium dari Badan Inteliten Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dengan bantuan ini, setiap hari selalu ada rapid tes dan tes swab massal di Kota Surabaya. Warga pun sangat antusias mengikuti tes ini karena gratis dan apabila diketahui reaktif langsung ditangani lebih lanjut.

Hingga 9 Juni 2020, Pemkot Surabaya sudah menggelar rapid tes sebanyak 50.049 orang dengan hasil 5.552 orang di antaranya reaktif, dan 44.497 orang non-reaktif. Bagi warga yang reaktif, langsung dilakukan tes swab menggunakan mobil laboratorium dari BIN dan BNPB. Pertanggal 9 Juni 2020, Pemkot Surabaya bersama BNPB, BIN dan rujukan puskesmas sudah menggelar tes swab sebanyak 5.948 orang. Jumlah ini berasal dari rapid reaktif 5.552 orang (tes pemkot bersama BIN), ditambah dengan rapid reaktif 396 orang (tes rujukan puskesmas).

Dari total 5.948 tes swab, hasilnya yang sudah keluar sebanyak 4.400 orang dan 1.548 orang masih menunggu hasilnya. Dari hasil yang sudah keluar itu, sebanyak 1.047 orang atau 23,80 persen dinyatakan positif dan 3.325 orang atau 75,57 persen dinyatakan negative. Sedangkan 28 orang atau 0,64 dinyatakan invalid.

“Nah, bagi warga yang masih menunggu hasil tes swabnya keluar, seperti yang ada sebanyak 1.548 orang itu, maka pemkot memindahkannya ke hotel yang telah dipersiapkan. Sedangkan hasil tes swabnya yang sudah keluar dan dinyatakan positif (1.047 orang), akan dipindahkan ke Hotel Asrama Haji bagi yang tidak menunjukkan gejala, dan bagi yang menunjukkan gejala akan langsung dirawat di rumah sakit,” tegasnya.

Selain itu, untuk menguatkan imun warga Kota Surabaya dan pasien yang sudah dipantau itu, Pemkot Surabaya membuat minuman tradisional pokak dan telur rebus di dapur umum Balai Kota Surabaya, dan selanjutnya dibagi-bagikan ke warga. “Supaya cepat sembuh, maka imunnya harus dikuatkan, salah satunya dengan cara ini. Bahkan, kita juga membagi-bagikan vitamin kepada warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah maupun di hotel,” ujarnya.

Di samping itu, Wali Kota Risma juga terus memasifkan pembentukan Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo. Bahkan, ia juga sudah berkoordinasi dengan Polres Tanjung Perak dan Polrestabes Surabaya untuk terus memasifkan pembentukan kampung tangguh hingga ke tingkat RW se-Kota Surabaya, meskipun hingga saat ini sudah ada sebanyak 1.340 kampung yang sudah membentuk kampung tangguh tersebut.

“Jadi, kami terus menciptakan Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo ini untuk menjaga supaya penyebarannya bisa terhambat di tingkat bawah. Kalau ini maksimal di tingkat bawah, saya yakin bisa menghambat penyebarannya,” tegasnya.

Tren kesembuhan naik

Berkat kerja keras dan berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pemkot Surabaya bersama berbagai pihak, akhirnya tren kesembuhan pasien Covid-19 di Kota Surabaya terus mengalami kenaikan dari hari ke hari. Total hingga Selasa (9/6/2020), sebanyak 923 pasien sudah dinyatakan sembuh.

Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan dari 923 pasien sembuh itu, sebagian besar berusia 45–54 tahun. Sedangkan jika berdasarkan jenis kelamin, 51 persen dari jumlah itu adalah perempuan dan sisanya laki-laki. “Artinya, pasien yang sembuh ini tergolong pada usia produktif,” urainya.

Meskipun pasien-pasien tersebut sudah dinyatakan sembuh, bukan berarti ia abai dengan kesehatannya. Feny meminta agar mereka tetap disiplin dan mematuhi protokol kesehatan, seperti mengenakan masker, jaga jarak dan menjaga terus imunitasnya. “Tetap walaupun sembuh, protokol kesehatan harus diperhatikan. Kalau yang sudah sembuh memang tidak dipantau lagi, makanya mereka harus menata dirinya sediri supaya terus sehat,” pungkasnya. (ADV)

Loading...

baca juga